SEARCH

Found 111 related files. Current in page 1

permainan teka silang kata islam

SMNPTN IPS 2013
by top markotop 0 Comments favorite 8 Viewed Download 0 Times

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Alhamdulillah tim penyusun telah berhasil menyelesaikan penyusunan pembahasan SBMPTN, walaupun buku ini masih jauh dari kesempurnaan. di SBMPTN (d/h SNMPTN) sehingga soal yang akan keluar di tahun berikutnya dapat diprediksi maka dengan panduan buku ini diharapkan siswa lebih siap menghadapi ujian masuk PTN. SBMPTN merupakan kegiatan seleksi ujian masuk PTN dengan tipe soal, yaitu TPA (Tes Po- Buku ini dirancang dalam upaya untuk menunjang pelajaran sekolah dalam bidang studi IPA sebagai kiat sukses menembus PTN. Setelah memahami konsep materi maka perlu melatih diri dengan soal-soal latihan. Buku ini memuat kumpulan soal dan pembahasan soal–soal SNMPTN mulai dari tahun 2008 sampai tahun 2012. Penyelesaian soal dibahas dengan pembahasan sederhana, praktis, pendekatan konseptual, dan sistematis. Dengan latihan soal akan membantu siswa memahami karakteristik tren soal-soal yang sering keluar tensial Akademik), Kemampuan Dasar (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) serta Kemampuan IPA (Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi) atau kemampuan IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, dan Sosiologi). Buku ini hadir untuk kelas 3 SMA/MA/SMK yang ingin melanjutkan studi ke PTN. Tim Penyusun sangat paham bahwa buku ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, mohon kritikan dan saran demi perbaikan buku ini.

SMART SOLUTION Tes Potensi Akademik SBMPTN 2013

Rangkuman Materi SBMPTN 2013 SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI Disertai Teori Ringkas dan Pembahasan Soal Tes Potensi Akademik (TPA) Disusun Oleh : Pak Anang Kumpulan SMART SOLUTION dan TRIK SUPERKILAT Ringkasan Materi SBMPTN Tes Potensi Akademik (TPA) Penalaran Verbal (Sinonim, Antonim, dan Analogi) By Pak Anang (http://pak-anang.blogspot.com) A. PENALARAN VERBAL 1. SINONIM (Padanan Kata) Soal-soal sinonim, kemampuan yang dituntut adalah adik-adik mampu mencari arti dari sebuah kata pada pilihan jawaban yang tersedia. Tips agar adik-adik mudah menyelesaikan soal tentang sinonim adalah sering membaca. Nah, saat menemukan kata-kata asing, jangan ditinggalkan begitu saja, catat dan coba mencari padanan katanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. TRIK SUPERKILAT: Seringkali ada pilihan jawaban yang hampir mirip dengan soal. Biasanya jawaban ini adalah diberikan sebagai jawaban jebakan. Contoh soal sinonim: PARTIKELIR = .... A. Tukang parkir B. Partisan C. Partisi D. Swasta E. Enterprener Pembahasan: Jawaban B dan C mirip dengan kata yang digunakan pada soal. Biasanya ini mudah kita eliminasi sebagai jebakan jawaban..... Sehingga mempemudah kita dalam menjawab soal sinonim ini. Jawaban yang tepat adalah ”swasta”. 2. ANTONIM (Lawan Kata) Soal tentang antonim ini kebalikan dari sinonim. Dalam soal antonim adik-adik dituntut untuk mencari lawan kata dari soal yang diberikan. Contoh soal antonim: TERKATUNG A.Melayang B.Pasti C.Ombak D.Terperosok E.Terbenam

Litvinjenkov otac misli da ga je Berezovski likvidirao

Sami Litvinjenko, iako jevrejin, je presao u Islam i bio vrlo aktivan u pomaganju Cecenskih terorista- pored njegovih ostalih veza sa raznim obavjestajnim sluzbama. ******* ЛИТВИЊЕНКО БЕРЕЗОВСКИ

PEMANFAATAN KOLEKSI BUKU TEKS PELAJARAN PADA ... - digilib

Ika Sukmawati (04141832). Pemanfaatan Koleksi Buku Teks Pelajaran Pada Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III Sebagai Sumber Belajar Siswa Kelas XI Tahun Ajaran 2008/2009. Penelitian tentang Pemanfaatan Koleksi Buku Teks Pelajaran Pada Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III Sebagai Sumber Belajar Siswa Kelas XI Tahun Ajaran 2008/2009 bertujuan untuk mengetahui Bagaimana tingkat pemanfaatan buku teks pada perpustakaan MAN Yogyakarta III, alasan siswa menggunakan koleksi Buku Teks dan Buku Teks mata pelajaran apa yang sering digunakan siswa berdasarkan jurusanya, penelitian ini menitik beratkan pada kebutuhan, motif, minat siswa menggunakan buku teks pelajaran, selain itu kelengkapan koleksi, keterampilan pustakawan serta ketersediaan fasilitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian populasi sehingga tidak memerlukan sampel dalam pengujian validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dokumentasi, wawancara, angket dan observasi. Analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kuantitatif yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan mayoritas siswa memanfaatkan buku teks pelajaran dengan baik sebanyak 54,4%. Sedangkan alasan siswa menggunakan buku teks pelajaran dapat dilihat dari faktor internal dan faktor eksternal, dalam fakor internal terdiri dari kebutuhan, minat, dan motif. Sedangkan faktor eksternalnya kelengkapan koleksi, keterampilan pustakawan dan ketersediaan fasilitas. Dilihat dari faktor kebutuhan mayoritas siswa menyatakan kebutuhannya sedang (48,7%), dilihat dari motifnya mayoritas siswa menyatakan motifnya sedang (38,0%), sedangkan dari minat mayoritas siswa menyatakan minatnya tinggi (42,4%). Faktor eksternal dilihat dari kelengkapan koleksinya mayoritas siswa menyatakan koleksinya lengkap (51,3%), dari keterampilan pustakawan mayoritas siswa menyatakan terampil (49,4%), sedangkan ketersediaan fasilitas penelusuran mayoritas siswa menyatakan tersedia (40,5%). Koleksi yang sering dibaca siswa IPA adalah mata pelajaran Biologi (52,0%) sedangkan yang sering dibaca juga mata pelajaran Biologi (48,0%). Pada siswa IPS buku yang sering dibaca adalah Akuntansi (35,2%), sedangkan yang sering dipinjam juga Akuntansi (43,5%). Kesimpulan akhir penelitian ini adalah bahwa pada umumnya pemanfaatan koleksi buku teks pelajaran pada perpustakaan MAN Yogyakarta III telah dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber belajar siswa, baik itu untuk mengerjakan tugas dari guru maupun untuk mengerjakan tugas rumah. Namun agar siswa lebih memanfaatkan buku teks maka koleksi perpustakaan perlu ditambah lagi dengan koleksi-koleksi yang baru agar siswa tidak ketinggalan informasi. (Kata kunci: Koleksi Buku Pelajaran, Perpustakaan )

Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 - Buku Sekolah Elektronik

Tentang Buku Panduan Guru Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas I Buku Panduan Guru disusun untuk memudahkan para guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Buku ini mencakup hal-hal sebagai berikut. 1. Jaringan tema yang memberi gambaran kepada guru tentang suatu tema yang melingkupi beberapa kompetensi dasar (KD) dan indikator dari berbagai mata pelajaran. 2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran. 3. Kegiatan pembelajaran tematik terpadu untuk menggambarkan kegiatan pembelajaran yang menyatu dan mengalir. 4. Pengalaman belajar yang bermakna untuk membangun sikap dan perilaku positif, penguasaan konsep, keterampilan berpikir saintifik, berpikir tingkat tinggi, kemampuan menyelesaikan masalah, inkuiri, kreativitas, dan pribadi reflektif. 5. Berbagai teknik penilaian siswa. 6. Informasi yang menjadi acuan kegiatan remedial dan pengayaan. 7. Kegiatan interaksi guru dan orang tua, yang memberikan kesempatan kepada orang tua untuk ikut berpartisipasi aktif melalui kegiatan belajar siswa di rumah. 8. Petunjuk penggunaan buku siswa. Kegiatan pembelajaran di buku ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) siswa melalui aktivitas yang bervariasi. Aktivitas tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut. 1. Membuka pelajaran dengan cara yang menarik perhatian siswa, seperti membacakan cerita, bertanya jawab, bernyanyi, melakukan permainan, demonstrasi, pemecahan masalah dan sebagainya. 2. Menginformasikan tujuan pembelajaran sehingga siswa dapat mengorganisir informasi yang disampaikan (apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan). 3. Menggali pengetahuan siswa yang diperoleh sebelumnya agar siswa bisa mengaitkan pengetahuan terdahulu dengan yang akan dipelajari. 4. Memberi tugas yang bertahap guna membantu siswa memahami konsep. 5. Memberi tugas yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. 6. Memberi kesempatan untuk melatih keterampilan atau konsep yang telah dipelajari. 7. Memberi umpan balik yang akan menguatkan pemahaman siswa.

pengadaan barang/jasa publik dalam rangka pelaksanaan kerja ...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Tiada kata-kata indah yang pantas diucapkan selain puji syukur Alhamdulillah, kepada Allah Subhanahuwata’ala, sebab dengan rahmat, nikamat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tulisan ini. Walaupun dalam bentuk dengan isi sederhana yang terangkum dalam tesis berjudul “Pengadaan Barang/Jasa Publik dalam Rangka Pelaksanaan Kerja Sama Daerah”, sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi Pasca Sarjana Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang Tahun 2008. Sebagai insane yang lemah tentunya banyak sekali kekurangan-kekurangan dan keterbatasan yang terdapat pada diri penulis tidak terkecuali pada penulisan tesis ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan koreksi, kritik saran dan perbaikan dari berbagai pihak agar penulisan tesis ini lebih baik. Tidak sedikit bantuan dari berbagai pihak yang diberikan kepada penulis baik dari segi moril dan segi materiil. Oleh karena itu dengan segala ketulusan hati penulis mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas segala bantuan dan dukungan yang selama ini penulis terima sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan yang ini, ijinkanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada : 1. Bapak H. Mulyadi,S.H.,M.S. selaku Ketua Program pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang, yang selalu memberikan motivasi dalam menyelesaikan tesis ini. 2. Bapak Dr.R.Benny,S.H.,C.N.,M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing Utama dalam penulisan tesis ini yang telah banyak membantu memberikan bimbingan dalam menyelesaikan penulisan ini. 3. Bapak Yunanto,S.H.M.Hum., sebagai Sekretaris I Bidang Akademik, sekaligus sebagai Dosen Penguji di Program Kenotariatan Universitas Diponegoro. 4. Bapak Sonhaji,S.H.,M.S., dan Bapak Hendro Saptono,S.H.,M.Hum., sebagai Dosen Penguji di Program Kenotariatan Universitas Diponegoro. 5. Semua Narasumber selama kami melaksanakan penelitian, seperti Bapak Joko Pranowo,S.H.,M.H., Kepala Bappeda Kabupaten Pekalongan, Bapak Achmad Mas’udi,S.H.,.M.M., Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Pekalongan, Bapak Harry Suminto,S.H.,M.H., Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Pekalongan, Bapak Drs.H. Abidin Noor Kepala Bagian Aset Daerah Kabupaten Pekalongan dan Bapak Ir.Agus Prijambodo, Kepala Bagian Program Setda Kabupaten Pekalongan, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan tesis ini. 6. Teristimewa untuk suamiku Abdul Aziz Sutanto,S.Sos. dan anak-anakku tersayang Iftita Rakhma Ikrima dan Shoffarisna Ithma’anna atas doa dan dukungannya selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang. 7. Sahabat-sahabatku dan rekan-rekan Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Angkatan 2006. 8. Semua pihak yang belum sempat penulis sebutkan dan telah banyak membantu penyelesaian tesis ini. Akhirnya, semoga amal baik mereka mendapat imbalan dan pahala dari Allah SWT. Amien. Semarang, penulis April 2008

70 PERSEN KORUPSI INDONESIA DARI PENGADAAN BARANG ...

Indonesia Procurement Watch (IPW) menyatakan dari 385 kasus korupsi i yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 70 persennya merupakan kasus pengadaan barang dan jasa. "Tingginya angka kasus yang ditangani KPK menjadi indikator proyek pengadaan barang dan jasa merupakan lahan subur praktik korupsi di Indonesia," kata Direktur Program IPW Hayie Muhammad saat menjadi pembicara pelatihan peliputan pengadaan barang dan jasa di Surabaya, Sabtu (6/7). Menurut Hayie Muhammad, selama ini dalam perencanaan pengadaan barang dan jasa di hampir semua kantor pemerintah khususnya daerah, tidak ada pengawasan maksimal sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan keuntungan pribadi. "Umpamanya ada pesanan-pesanan dari pihak-pihak lain seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk memasukkan nilai pekerjaan atau proyek itu di atas Harga Perkiraan Sendiri (HPS)," kata Hayie Muhammad. Itu sebabnya, lanjut Hayie Muhammad, banyak ditemukan bahwa HPS itu lebih mahal dari pada harga pasar yang sebenarnya. "Itulah yang dibagi-bagi mereka untuk sebagai lahan korupsi mereka," katanya. Selama ini, kata dia, proyek pengadaan barang dan jasa menghabiskan anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ii sebesar 30 persen setiap tahunnya, dengan peningkatan sekitar 10 persen per tahun. Selain KPK, kata dia, kejaksaan juga telah mengungkap sekitar 2.000 kasus pengadaan barang dan jasa yang terindikasi korupsi, dengan pemborosan anggaran mencapai 30 hingga 40 persen. Hayie Muhammad menambahkan, proses pengawasan mulai awal perencanaan...

Factsheet about 9/11 - 9/11 Education Programme

Factsheet about 9/11 What happened on 11 September 2001? In the early morning of 11 September 2001, 19 hijackers took control of four airliners taking off from different airports in the US – Boston, Washington DC and Newark in New Jersey. View of the World Trade Center, New York, under attack on 11 September 2001 At 8.46am, American Airlines Flight 11 crashed into the North Tower of the World Trade Center in New York. Seventeen minutes later, United Airlines Flight 175 crashed into the South Tower. The third airliner, American Airlines Flight 77, crashed into the Pentagon in Washington DC at 9.37am, and the final plane, United Airlines Flight 93, crashed en route to Washington after passengers on board had fought with the hijackers. It is thought that the hijackers were aiming to hit either the Capitol building in Washington or the White House. All US airports were quickly shut down and all aircraft on their way to the country were turned away. The search for survivors at the sites of the attacks began immediately, although with little hope of success. At 9.59am, the fire that had been started by the crash caused the South Tower of the World Trade Center to collapse; this was followed by the collapse of the North Tower at 10.28am. Nearly 3,000 people were killed – most of them instantly. These horrific events were witnessed on TV by millions of people around the world, who by now had realised that the USA was coming under massive terrorist attack. Find out more by visiting: www.911educationprogramme.co.uk The Pentagon, Washington DC, minutes after it had been attacked on 11 September 2001 Page 2 At 8.30pm, US President of the George W. Bush addressed the nation on television and said: “Today, our fellow citizens, our way of life, our very freedom came under attack in a series of deliberate and deadly terrorist acts. These acts of mass murder were intended to frighten our nation into chaos and retreat. But they have failed. Our country is strong.” After the broadcast, he met his advisers to review the day. They already had evidence that the attacks had been organised by Osama bin Laden – the leader of the extreme terrorist group Al-Qaeda, which was based in Afghanistan. From his base in Afghanistan, bin Laden supported an increasing number of suicide missions against the USA during the 1990s. The attacks were planned with increasing care and attention to detail – and with a desire to capture the attention of the world. Osama bin Laden in 1997 Why did the attacks on the USA happen? In 2004, Osama bin Laden finally admitted that Al-Qaeda, an extremist terrorist organisation, had been responsible for organising the 9/11 attacks. This confirmed what the US Government had believed all along. For many years, Osama bin Laden had called on Muslims to attack US soldiers and citizens wherever they could. He saw the US as an arch enemy of Islam. His aim was to get the US military out of their bases in Saudi Arabia, where they had remained after the Gulf War in 1991. Saudi Arabia is home to Islam’s most holy sites in the cities of Mecca and Medina, and bin Laden felt that America’s presence there was an affront to all Muslims. He also strongly objected to America’s support for Israel, which he believed wrongly occupied lands that belonged to fellow Muslims....

Aygül Özkan und die Vielgötterei - Institut für Medienverantwortung

Aygül Özkan und die Vielgötterei Immer wieder fällt auf, dass in Bezug auf Islam und Muslime in öffentlichen Debatten laizistisch argumentiert wird. Da ist von „Trennung von Religion und Staat“ die Rede bis hin zur Forderung nach der „Verbannung religiöser Symbole aus öffentlichen Einrichtungen“. Ansonsten beruft man sich eher auf die säkulare Ordnung, in der (christlich) religiöse Symbole als schützenswerte Elemente inkludiert sind. Nun hatte die designierte Sozialministerin Niedersachsens, Aygül Özkan, genau diese Unterscheidung aufzuheben versucht, indem sie gleichwertig die Verbannung von christlichen und islamischen Erkennungsmerkmalen wie (das staatliche verordnete Kreuz und (das private) Kopftuch aus Klassenzimmern forderte. Dies führte zu einer ersten Entschuldigung gegenüber ihrer Partei, der CSU, aus deren Reihen große Empörung zu vernehmen war: wegen der Bedrohung der Kreuze. Als mehrfach markierte Politikerin hätte Frau Özkan die besonders kritische Beobachtung, unter der sie steht, einkalkulieren müssen. Als Frau, Muslimin und mit türkischem Migrationshintergrund ist eine Skepsis auf der Basis lange gepflegter Vorurteile ihr gegenüber erwartbar. Deshalb war spätestens zu dem Zeitpunkt des Rückziehers und der Entschuldigung klar, dass sie fürderhin unter noch akribischerer Beobachtung stehen würde – und sie die Eidesformel auf keinen Fall schadlos überstehen könnte. Hätte sie auf einen Gottesbezug verzichtet, hätte man ihr Verrat an den deutschen (parlamentarischen?) Werten vorwerfen können. Hätte Sie das fremdsprachige Wort „Allah“ verwendet, hätte man ihr vermutlich das gleiche vorgeworfen. Die integrative Übersetzung des arabischen Terminus für Gott aber empfanden wiederum einige als Vereinnahmungsversuch. Vor allem aus kirchlichen Kreisen wurde ihr „so wahr mir Gott helfe“ als Anmaßung abgewehrt und die Begründung war teilweise delikat. Sie kommt auch in einem online-Kommentar zum Kommentar von Jost Müller-Neuhof im Tagesspiegel vom 2. Mai 2010 zum Ausdruck: „Auch wenn sich Frau Özkan „ausdrücklich auf den einen und einzigen Gott“ beruft, der bei ihnen Allah heißt, ist dieser - siehe auch diverse Kirchenkommentare - sicher nicht mit dem Gott und Jesus unseres Glaubens gleichzusetzen (sic!). Nennt man das Häresie?“ Die an die Meinungsäußerung angeschlossene Frage richtet sich freilich an Frau Özkan. Dabei müsste man den Schreiber und einige sich presserklärende Kirchenvertreter fragen, ob sie nicht mit dieser Art der Abgrenzungsargumentation „Häresie“ betreiben. Denn, wenn man darauf besteht, dass Gott und Allah nicht identisch sind, dann würde das ja bedeuten, dass es mehrere Götter gibt. Ausgerechnet die Vertreter christlicher Provenienz beschwören mit ihren Stellungnahmen also einen Polytheismus herauf, der jeglichem Selbstverständnis eigentlich widersprechen müsste. Ist der Ablehnungsimpuls gegenüber einer Ministerin, die Muslimin ist, so stark, dass man diesen Widerspruch selbst nicht bemerkt?...

Al Qaeda and Affiliates: Historical Perspective, Global Presence ...

Al Qaeda (AQ) has evolved into a significantly different terrorist organization than the one that perpetrated the September 11, 2001, attacks. At the time, Al Qaeda was composed mostly of a core cadre of veterans of the Afghan insurgency against the Soviet Union, with a centralized leadership structure made up mostly of Egyptians. Most of the organization’s plots either emanated from the top or were approved by the leadership. Some analysts describe pre-9/11 Al Qaeda as akin to a corporation, with Osama Bin Laden acting as an agile Chief Executive Officer issuing orders and soliciting ideas from subordinates. Some would argue that the Al Qaeda of that period no longer exists. Out of necessity, due to pressures from the security community, in the ensuing years it has transformed into a diffuse global network and philosophical movement composed of dispersed nodes with varying degrees of independence. The core leadership, headed by Bin Laden and Ayman al-Zawahiri, is thought to live in the mountainous tribal belt of northwest Pakistan bordering Afghanistan, where it continues to train operatives, recruit, and disseminate propaganda. But Al Qaeda franchises or affiliated groups active in countries such as Yemen and Somalia now represent critical power centers in the larger movement. Some affiliates receive money, training, and weapons; others look to the core leadership in Pakistan for strategic guidance, theological justification, and a larger narrative of global struggle. Over the past year senior government officials have assessed the trajectory of Al Qaeda to be “less centralized command and control, (with) no clear center of gravity, and likely rising and falling centers of gravity, depending on where the U.S. and the international focus is for that period.” While a degraded corporate Al Qaeda may be welcome news to many, a trend has emerged over the past few years that some view as more difficult to detect, if not potentially more lethal. The Al Qaeda network today also comprises semi-autonomous or self radicalized actors, who often have only peripheral or ephemeral ties to either the core cadre in Pakistan or affiliated groups elsewhere. According to U.S. officials Al Qaeda cells and associates are located in over 70 countries. Sometimes these individuals never leave their home country but are radicalized with the assistance of others who have traveled abroad for training and indoctrination through the use of modern technologies. In many ways, the dispersion of Al Qaeda affiliates fits into the larger strategy of Bin Laden and his associates. They have sought to serve as the vanguard of a religious movement that inspires Muslims and other individuals aspiring to join a jihadi movement to help defend and purify Islam through violent means. The name “Qaeda” means “base” or “foundation,” upon which its members hope to build a robust, geographically diverse network. Understanding the origins of Al Qaeda, its goals, current activities, and prospective future pursuits is key to developing sound U.S. strategies, policies, and programs. Appreciating the adaptive nature of Al Qaeda as a movement and the ongoing threat it projects onto U.S. global security interests assists in many facets of the national security enterprise, including securing the homeland; congressional legislative process and oversight; alignment of executive branch resources and coordination efforts; and prioritization of foreign assistance. The focus of this report is on the history of Al Qaeda, known (or attributed) actions and suspected capabilities of the organization and non-aligned entities, and an analysis of select regional Al Qaeda affiliates. This report may be updated as events warrant. Congressional Research Service Al Qaeda and Affiliates

« previous  123456789