SEARCH

Found 97 related files. Current in page 1

konsep pidato islam

SMNPTN IPS 2013
by top markotop 0 Comments favorite 10 Viewed Download 0 Times

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Alhamdulillah tim penyusun telah berhasil menyelesaikan penyusunan pembahasan SBMPTN, walaupun buku ini masih jauh dari kesempurnaan. di SBMPTN (d/h SNMPTN) sehingga soal yang akan keluar di tahun berikutnya dapat diprediksi maka dengan panduan buku ini diharapkan siswa lebih siap menghadapi ujian masuk PTN. SBMPTN merupakan kegiatan seleksi ujian masuk PTN dengan tipe soal, yaitu TPA (Tes Po- Buku ini dirancang dalam upaya untuk menunjang pelajaran sekolah dalam bidang studi IPA sebagai kiat sukses menembus PTN. Setelah memahami konsep materi maka perlu melatih diri dengan soal-soal latihan. Buku ini memuat kumpulan soal dan pembahasan soal–soal SNMPTN mulai dari tahun 2008 sampai tahun 2012. Penyelesaian soal dibahas dengan pembahasan sederhana, praktis, pendekatan konseptual, dan sistematis. Dengan latihan soal akan membantu siswa memahami karakteristik tren soal-soal yang sering keluar tensial Akademik), Kemampuan Dasar (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) serta Kemampuan IPA (Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi) atau kemampuan IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, dan Sosiologi). Buku ini hadir untuk kelas 3 SMA/MA/SMK yang ingin melanjutkan studi ke PTN. Tim Penyusun sangat paham bahwa buku ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, mohon kritikan dan saran demi perbaikan buku ini.

SBMPTN 2013 - Share PDF Online
by top markotop 0 Comments favorite 6 Viewed Download 0 Times

Analisis Bedah Soal SBMPTN 2013 SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS Kimia IPA Disusun Oleh : Pak Anang Roy Handerson Kumpulan SMART SOLUTION dan TRIK SUPERKILAT Analisis Bedah Soal SBMPTN 2013 Kimia IPA By Pak Anang (http://pak-anang.blogspot.com) Berikut ini adalah analisis bedah soal SBMPTN untuk materi Kimia IPA. Soal-soal berikut ini dikompilasikan dari SNMPTN empat tahun terakhir, yaitu SNMPTN 2009, 2010, 2011 dan 2012. Soal-soal berikut disusun berdasarkan ruang lingkup mata pelajaran Kimia SMA, dan juga disertakan tabel perbandingan distribusi soal dan topik materi Kimia yang keluar dalam SNMPTN empat tahun terakhir. Dari tabel tersebut diharapkan bisa ditarik kesimpulan bagaimana prediksi soal SBMPTN yang akan keluar pada SBMPTN 2013 nanti. No Ruang Lingkup Struktur Atom Sistem Periodik Unsur Ikatan Kimia Asam Basa Bronsted-Lowry Ph Asam Basa Titrasi Asam Basa Larutan Penyangga Hidrolisis Garam Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) Reaksi Redoks Sel Volta Sel Elektrolisis Hukum Dasar Kimia (Hukum Proust) Persamaan Reaksi dan Konsep Mol Hitungan Kimia Sifat Koligatif Koloid Kimia Unsur Tata Nama Senyawa Karbon dan Isomer Reaksi-reaksi Senyawa Karbon Identifikasi Senyawa Karbon Benzena dan Turunannya Termokimia Laju Reaksi Kesetimbangan Kimia JUMLAH SOAL SNMPTN 2009 SNMPTN 2010 SNMPTN 2011 SNMPTN 2012 SBMPTN 2013 Bimbel SBMPTN 2013 Kimia IPA by Pak Anang (http://pak-anang.blogspot.com) Halaman 1 1. Struktur Atom 1. (SNMPTN 2010) Konfigurasi ion besi (III), 26 Fe3+ , mempunyai elektron tidak berpasangan sebanyak .... A. Dua B. Tiga C. Empat D. Lima E. Enam

Litvinjenkov otac misli da ga je Berezovski likvidirao

Sami Litvinjenko, iako jevrejin, je presao u Islam i bio vrlo aktivan u pomaganju Cecenskih terorista- pored njegovih ostalih veza sa raznim obavjestajnim sluzbama. ******* ЛИТВИЊЕНКО БЕРЕЗОВСКИ

PEMBAHASAN DAN KUNCI JAWABAN GEOGRAFI KELAS XII ...

PEMBAHASAN DAN KUNCI JAWABAN GEOGRAFI KELAS XII PAKET B 1. Berdasarkan soal nomor 1 a. Konsep aglomerasi adalah merupakan gabungan, kumpulan, 2 atau lebih pusat kegiatan dalam 1 lokasi/kawasan terterntu seperti kawasan industri, pemukiman, perdagangan, dsb. b. Konsep morfologi menjelaskan kenampakan bentuk-bentuk muka bumi, seperti dataran rendah, lereng, bukit/dataran tinggi. c. Konsep pola menitik beratkan pada pola keruangan baik fisik maupun sosialnya seperti pola permukiman penduduk, pola aliran sungai, dsb. d. Konsep lokasi mengkaji letak suatu objek dipermukaan bumi. Pada konsep ini utamanya dalam menjawab pertanyaan dimana (where). e. Konsep ketergantungan adalah konsep yang menunjukkan keterkaitan keruangan antar wilayah akibat adanya perbedaan potensi antar wilayah. Seperti keterkaitan antara desa dengan kota. Kunci jawaban D 2. Prinsip-prinsip geografi ada 4 a. Prinsip deskripsi, merupakan penjelasan lebih jauh mengenai gejala-gejala yang diselidiki/dipelajari. Deskripsi disajikan dalam bentuk tulisan, diagram tabel/gambar/peta. b. Prinsip korologi, merupakan gejala, fakta/masalah geografi disuatu tempat yang ditinjau dari sebaran, interelasi, interaksi, dan integrasinya dalam ruang. c. Prinsip persebaran, merupakan suatu gejala dan fakta yang tersebar tidak merata dipermukaan bumi. d. Prinsip interelasi, merupakan suatu hubungan yang saling terkait dalam ruang antara gejala yang 1 dengan gejala lain. e. Prinsip distribusi, merupakan suatu gejala dan fakta yang tidak merata dipermukaan bumi.

Panduan penulisan Penerbitan Buku Teks - PDPT

Panduan Penulisan Buku Panduan ini merupakan petunjuk penulisan buku pelajaran (ilmiah populer) yang digunakan untuk menentukan kelayakan naskah bagi penerbit. Panduan ini membahas pengertian buku pelajaran & diktat, tujuan penulisan buku pelajaran, isi buku pelajaran, sampul buku, bagian pembuka, bagian utama dan bagian penutup serta ketentuan jumlah halaman. Buku Pelajaran (Text book) & Diktat Buku pelajaran adalah bahan/materi pelajaran yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk buku dan digunakan sebagai bahan pelajaran (sumber informasi) sebuah mata kuliah bagi mahasiswa dan pengajar susuai dengan kebutuhan lapangan/industry dan tuntutan perkembangan teknologi dan atau kurikulum. Diktat adalah catatan tertulis suatu bidang studi yang disiapkan oleh guru/dosen untuk mempermudah pengayaan materi pelajaran atau bidang studi yang dibahas dalam proses pembelajaran (Ilvandri, 2011). Diktat yang baik merupakan draft buku ajar yang belum diterbitkan. Tujuan penulisan buku pelajaran a. Menyediakan buku susuai dengan kebutuhan mahasiswa, institusi dan lapangan/ industry serta serta tuntutan perkembangan teknologi atau kurikulum. b. Mendorong penulis/dosen untuk berkreasi dan kreatif membagikan ilmunya kepada masyarakat. c. Mendorong penulis untuk meng-update ilmunya sesuai dengan kriteria tuntutan buku layak terbit mencakup subdstansi, bahasa dan potensi pasar. d. Mendukung penulis untuk menerbitkan buku bila belum terbit. Isi Buku Pelajaran Isi buku pelajaran berupa teori, konsep, formula atau aturan terkini dilengkapi dengan contoh-contoh masalah atau studi kasus serta solusinya. Isi buku harus orsinil dengan merujuk dari berbagai sumber. Informasi tepat, dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kepada pembaca dan semua pihak terkait. Isi tersusun dengan baik atau dengan alur informasi yang mudah dipahami. Buku pelajaran dan diktat yang baik memenuhi tiga aspek pendidikan yaitu ilmu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills) dan sikap atau perilaku (attitude). Aspek tersebut seperti yang dinyatakan oleh UNESCO (1994) yaitu...

Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 - Buku Sekolah Elektronik

Tentang Buku Panduan Guru Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas I Buku Panduan Guru disusun untuk memudahkan para guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Buku ini mencakup hal-hal sebagai berikut. 1. Jaringan tema yang memberi gambaran kepada guru tentang suatu tema yang melingkupi beberapa kompetensi dasar (KD) dan indikator dari berbagai mata pelajaran. 2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran. 3. Kegiatan pembelajaran tematik terpadu untuk menggambarkan kegiatan pembelajaran yang menyatu dan mengalir. 4. Pengalaman belajar yang bermakna untuk membangun sikap dan perilaku positif, penguasaan konsep, keterampilan berpikir saintifik, berpikir tingkat tinggi, kemampuan menyelesaikan masalah, inkuiri, kreativitas, dan pribadi reflektif. 5. Berbagai teknik penilaian siswa. 6. Informasi yang menjadi acuan kegiatan remedial dan pengayaan. 7. Kegiatan interaksi guru dan orang tua, yang memberikan kesempatan kepada orang tua untuk ikut berpartisipasi aktif melalui kegiatan belajar siswa di rumah. 8. Petunjuk penggunaan buku siswa. Kegiatan pembelajaran di buku ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) siswa melalui aktivitas yang bervariasi. Aktivitas tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut. 1. Membuka pelajaran dengan cara yang menarik perhatian siswa, seperti membacakan cerita, bertanya jawab, bernyanyi, melakukan permainan, demonstrasi, pemecahan masalah dan sebagainya. 2. Menginformasikan tujuan pembelajaran sehingga siswa dapat mengorganisir informasi yang disampaikan (apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan). 3. Menggali pengetahuan siswa yang diperoleh sebelumnya agar siswa bisa mengaitkan pengetahuan terdahulu dengan yang akan dipelajari. 4. Memberi tugas yang bertahap guna membantu siswa memahami konsep. 5. Memberi tugas yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. 6. Memberi kesempatan untuk melatih keterampilan atau konsep yang telah dipelajari. 7. Memberi umpan balik yang akan menguatkan pemahaman siswa.

Factsheet about 9/11 - 9/11 Education Programme

Factsheet about 9/11 What happened on 11 September 2001? In the early morning of 11 September 2001, 19 hijackers took control of four airliners taking off from different airports in the US – Boston, Washington DC and Newark in New Jersey. View of the World Trade Center, New York, under attack on 11 September 2001 At 8.46am, American Airlines Flight 11 crashed into the North Tower of the World Trade Center in New York. Seventeen minutes later, United Airlines Flight 175 crashed into the South Tower. The third airliner, American Airlines Flight 77, crashed into the Pentagon in Washington DC at 9.37am, and the final plane, United Airlines Flight 93, crashed en route to Washington after passengers on board had fought with the hijackers. It is thought that the hijackers were aiming to hit either the Capitol building in Washington or the White House. All US airports were quickly shut down and all aircraft on their way to the country were turned away. The search for survivors at the sites of the attacks began immediately, although with little hope of success. At 9.59am, the fire that had been started by the crash caused the South Tower of the World Trade Center to collapse; this was followed by the collapse of the North Tower at 10.28am. Nearly 3,000 people were killed – most of them instantly. These horrific events were witnessed on TV by millions of people around the world, who by now had realised that the USA was coming under massive terrorist attack. Find out more by visiting: www.911educationprogramme.co.uk The Pentagon, Washington DC, minutes after it had been attacked on 11 September 2001 Page 2 At 8.30pm, US President of the George W. Bush addressed the nation on television and said: “Today, our fellow citizens, our way of life, our very freedom came under attack in a series of deliberate and deadly terrorist acts. These acts of mass murder were intended to frighten our nation into chaos and retreat. But they have failed. Our country is strong.” After the broadcast, he met his advisers to review the day. They already had evidence that the attacks had been organised by Osama bin Laden – the leader of the extreme terrorist group Al-Qaeda, which was based in Afghanistan. From his base in Afghanistan, bin Laden supported an increasing number of suicide missions against the USA during the 1990s. The attacks were planned with increasing care and attention to detail – and with a desire to capture the attention of the world. Osama bin Laden in 1997 Why did the attacks on the USA happen? In 2004, Osama bin Laden finally admitted that Al-Qaeda, an extremist terrorist organisation, had been responsible for organising the 9/11 attacks. This confirmed what the US Government had believed all along. For many years, Osama bin Laden had called on Muslims to attack US soldiers and citizens wherever they could. He saw the US as an arch enemy of Islam. His aim was to get the US military out of their bases in Saudi Arabia, where they had remained after the Gulf War in 1991. Saudi Arabia is home to Islam’s most holy sites in the cities of Mecca and Medina, and bin Laden felt that America’s presence there was an affront to all Muslims. He also strongly objected to America’s support for Israel, which he believed wrongly occupied lands that belonged to fellow Muslims....

Aygül Özkan und die Vielgötterei - Institut für Medienverantwortung

Aygül Özkan und die Vielgötterei Immer wieder fällt auf, dass in Bezug auf Islam und Muslime in öffentlichen Debatten laizistisch argumentiert wird. Da ist von „Trennung von Religion und Staat“ die Rede bis hin zur Forderung nach der „Verbannung religiöser Symbole aus öffentlichen Einrichtungen“. Ansonsten beruft man sich eher auf die säkulare Ordnung, in der (christlich) religiöse Symbole als schützenswerte Elemente inkludiert sind. Nun hatte die designierte Sozialministerin Niedersachsens, Aygül Özkan, genau diese Unterscheidung aufzuheben versucht, indem sie gleichwertig die Verbannung von christlichen und islamischen Erkennungsmerkmalen wie (das staatliche verordnete Kreuz und (das private) Kopftuch aus Klassenzimmern forderte. Dies führte zu einer ersten Entschuldigung gegenüber ihrer Partei, der CSU, aus deren Reihen große Empörung zu vernehmen war: wegen der Bedrohung der Kreuze. Als mehrfach markierte Politikerin hätte Frau Özkan die besonders kritische Beobachtung, unter der sie steht, einkalkulieren müssen. Als Frau, Muslimin und mit türkischem Migrationshintergrund ist eine Skepsis auf der Basis lange gepflegter Vorurteile ihr gegenüber erwartbar. Deshalb war spätestens zu dem Zeitpunkt des Rückziehers und der Entschuldigung klar, dass sie fürderhin unter noch akribischerer Beobachtung stehen würde – und sie die Eidesformel auf keinen Fall schadlos überstehen könnte. Hätte sie auf einen Gottesbezug verzichtet, hätte man ihr Verrat an den deutschen (parlamentarischen?) Werten vorwerfen können. Hätte Sie das fremdsprachige Wort „Allah“ verwendet, hätte man ihr vermutlich das gleiche vorgeworfen. Die integrative Übersetzung des arabischen Terminus für Gott aber empfanden wiederum einige als Vereinnahmungsversuch. Vor allem aus kirchlichen Kreisen wurde ihr „so wahr mir Gott helfe“ als Anmaßung abgewehrt und die Begründung war teilweise delikat. Sie kommt auch in einem online-Kommentar zum Kommentar von Jost Müller-Neuhof im Tagesspiegel vom 2. Mai 2010 zum Ausdruck: „Auch wenn sich Frau Özkan „ausdrücklich auf den einen und einzigen Gott“ beruft, der bei ihnen Allah heißt, ist dieser - siehe auch diverse Kirchenkommentare - sicher nicht mit dem Gott und Jesus unseres Glaubens gleichzusetzen (sic!). Nennt man das Häresie?“ Die an die Meinungsäußerung angeschlossene Frage richtet sich freilich an Frau Özkan. Dabei müsste man den Schreiber und einige sich presserklärende Kirchenvertreter fragen, ob sie nicht mit dieser Art der Abgrenzungsargumentation „Häresie“ betreiben. Denn, wenn man darauf besteht, dass Gott und Allah nicht identisch sind, dann würde das ja bedeuten, dass es mehrere Götter gibt. Ausgerechnet die Vertreter christlicher Provenienz beschwören mit ihren Stellungnahmen also einen Polytheismus herauf, der jeglichem Selbstverständnis eigentlich widersprechen müsste. Ist der Ablehnungsimpuls gegenüber einer Ministerin, die Muslimin ist, so stark, dass man diesen Widerspruch selbst nicht bemerkt?...

Al Qaeda and Affiliates: Historical Perspective, Global Presence ...

Al Qaeda (AQ) has evolved into a significantly different terrorist organization than the one that perpetrated the September 11, 2001, attacks. At the time, Al Qaeda was composed mostly of a core cadre of veterans of the Afghan insurgency against the Soviet Union, with a centralized leadership structure made up mostly of Egyptians. Most of the organization’s plots either emanated from the top or were approved by the leadership. Some analysts describe pre-9/11 Al Qaeda as akin to a corporation, with Osama Bin Laden acting as an agile Chief Executive Officer issuing orders and soliciting ideas from subordinates. Some would argue that the Al Qaeda of that period no longer exists. Out of necessity, due to pressures from the security community, in the ensuing years it has transformed into a diffuse global network and philosophical movement composed of dispersed nodes with varying degrees of independence. The core leadership, headed by Bin Laden and Ayman al-Zawahiri, is thought to live in the mountainous tribal belt of northwest Pakistan bordering Afghanistan, where it continues to train operatives, recruit, and disseminate propaganda. But Al Qaeda franchises or affiliated groups active in countries such as Yemen and Somalia now represent critical power centers in the larger movement. Some affiliates receive money, training, and weapons; others look to the core leadership in Pakistan for strategic guidance, theological justification, and a larger narrative of global struggle. Over the past year senior government officials have assessed the trajectory of Al Qaeda to be “less centralized command and control, (with) no clear center of gravity, and likely rising and falling centers of gravity, depending on where the U.S. and the international focus is for that period.” While a degraded corporate Al Qaeda may be welcome news to many, a trend has emerged over the past few years that some view as more difficult to detect, if not potentially more lethal. The Al Qaeda network today also comprises semi-autonomous or self radicalized actors, who often have only peripheral or ephemeral ties to either the core cadre in Pakistan or affiliated groups elsewhere. According to U.S. officials Al Qaeda cells and associates are located in over 70 countries. Sometimes these individuals never leave their home country but are radicalized with the assistance of others who have traveled abroad for training and indoctrination through the use of modern technologies. In many ways, the dispersion of Al Qaeda affiliates fits into the larger strategy of Bin Laden and his associates. They have sought to serve as the vanguard of a religious movement that inspires Muslims and other individuals aspiring to join a jihadi movement to help defend and purify Islam through violent means. The name “Qaeda” means “base” or “foundation,” upon which its members hope to build a robust, geographically diverse network. Understanding the origins of Al Qaeda, its goals, current activities, and prospective future pursuits is key to developing sound U.S. strategies, policies, and programs. Appreciating the adaptive nature of Al Qaeda as a movement and the ongoing threat it projects onto U.S. global security interests assists in many facets of the national security enterprise, including securing the homeland; congressional legislative process and oversight; alignment of executive branch resources and coordination efforts; and prioritization of foreign assistance. The focus of this report is on the history of Al Qaeda, known (or attributed) actions and suspected capabilities of the organization and non-aligned entities, and an analysis of select regional Al Qaeda affiliates. This report may be updated as events warrant. Congressional Research Service Al Qaeda and Affiliates

The Origins of al Qaeda's Ideology - Strategic Studies Institute

“The fight against the enemy nearest to you has precedence over the fight against the enemy farther away. . . . In all Muslim countries the enemy has the reins of power. The enemy is the present rulers.” — Muhammad Abd al-Salam Faraj, tried and hanged in connection with the 1 1981 assassination of Anwar al-Sadat “Victory for the Islamic movements . . . cannot be attained unless these movements possess an Islamic base in the heart of the Arab region.” — Ayman al-Zawahiri, 2 Bin Laden deputy, 2001 “We do not want stability in Iran, Iraq, Syria, Lebanon, and even Saudi Arabia. . . . The real issue is not whether, but how to destabilize. We have to ensure the fulfillment of the democratic revolution.” — Michael Ledeen, 3 American Enterprise Institute, 2002 T he leader of Sadat’s assassins, Bin Laden’s chief ideologue, and a leading American neoconservative supporter of Israel all call for a revolutionary transformation of the Middle East. However, the United States, the existing Arab regimes, and the traditional Sunni clerical establishments all share an interest in avoiding instability and revolution. This shared interest makes the establishments in the Sunni world America’s natural partners in the struggle against al Qaeda and similar movements. If American strategists fail to understand and exploit the divide between the establishments and the revolutionaries within Sunni Islam, the United States will play into the radicals’ hands, and turn fence-sitting Sunnis into enemies. Spring 2005 69 Outsiders of the Sunni World Sunni Islam is a very big tent, and there always have been insiders and outsiders within Sunnism playing out their rivalries with clashing philosophies.4 Throughout the past century, the most important of these clashes have occurred between Sunni reformers and the traditional Sunni clerical establishment. The ideology espoused today by al Qaeda and similar groups can be traced directly from the 19th-century founders of modernist reform in Sunnism. Al Qaeda’s leading thinkers are steeped in these reformers’ long struggle against the establishment. The teaching of the reformers has been heterodox and revolutionary from the beginning; that is, the reformers and their intellectual descendants in al Qaeda are the outsiders of today’s Sunni world. For the most part this struggle has been waged in Egypt, Sunni Islam’s center of gravity. On one side of the debate, there is Cairo’s Al-Azhar, a seminary and university that has been the center of Sunni orthodoxy for a thousand years. On the other side, al Qaeda’s ideology has its origins in late-19thcentury efforts in Egypt to reform and modernize faith and society. As the 20th century progressed, the Sunni establishment centered on Al-Azhar came to view the modernist reform movement as more and more heterodox. It became known as Salafism, for the supposedly uncorrupted early Muslim predecessors (salaf, plural aslaf ) of today’s Islam. The more revolutionary tendencies in this Salafist reform movement constitute the core of today’s challenge to the Sunni establishment, and are the chief font of al Qaeda’s ideology. A Century of Reformation In contemporary Western discussions of the Muslim world, it is common to hear calls for a “reformation in Islam” as an antidote to al Qaeda.5 These calls often betray a misunderstanding of both Sunni Islam and of the early modern debate between Catholics and Protestants. In fact, a Sunni “reformation” has been under way for more than a century, and it works against Western security interests. The Catholic-Protestant struggle in Europe weakened traditional religious authorities’ control over the definition of doctrine, emphasized scripture over tradition, idealized an allegedly uncorrupted primitive religious community, and simplified theology and rites. The Salafist movement in the Sunni Muslim world has been pursuing these same ...

« previous  123456789