SEARCH

Found 503 related files. Current in page 4

contoh soal audit

snmptn-2010_ipa_kodesoal_526
by top markotop 0 Comments favorite 18 Viewed Download 0 Times

1. Sebelum mengerjakan soal, Anda diminta untuk meneliti kelengkapan nomor dalam berkas soal ini. Tes Bidang Studi IPA ini terdiri atas 60 soal dari 4 bidang ilmu, yaitu Matematika 15 soal, Fisika 15 soal, Kimia 15 soal, dan Biologi 15 soal. 2. Bacalah dengan cermat aturan dan tata cara menjawab setiap tipe soal! 3. Tulislah jawaban Anda pada lembar jawaban ujian yang tersedia sesuai dengan petunjuk yang diberikan! 4. Anda dapat menggunakan bagian yang kosong dalam berkas soal untuk keperluan corat-coret. Jangan menggunakan lembar jawaban ujian untuk keperluan corat-coret. 5. Selama ujian berlangsung, Anda tidak diperkenan­ kan menggunakan alat hitung dalam segala bentuk. 6. Selama ujian berlangsung, Anda tidak dlperkenan­ kan menggunakan alat komunikasi dalam segala bentuk. 7. Selama ujian berlangsung, Anda tidak diperkenan­ kan untuk bertanya atau meminta penjelasan kepada siapa pun tentang soal-soal ujian, termasuk kepada pengawas ujian. 8. Selama ujian berlangsung, Anda tidak diperkenan­ kan keluar-masuk ruang ujian. 9. Waktu ujian yang disediakan adalah 90 menit. 10. Harap diperhatikan agar lembar jawaban ujian tidak kotor, tidak terlipat, tidak basah, dan tidak robek. 11. Setelah ujian selesai, Anda diminta tetap dud uk sampai pengawas selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian. Anda dipersilahkan keluar ruang setelah mendapat isyarat dari pangawas untuk meninggalkan ruang. 12.Jawaban yang benar diberi skor +4, jawaban kosong diberi skor 0, dan jawaban yang salah diberi skor -1. 13.Penilaian didasarkan atas perolehan skor pada setiap bidang ilmu. Oleh sebab itu, Anda jangan hanya menekankan pad a bidang ilmu tertentu (tidak ada bidang ilmu yang diabaikan). 14.Kode naskah ini: [

Audit - Office of the State Comptroller

Jan 24, 2014 ... To determine if the Metro-North Railroad (Metro-North) used American ... Metro- North, a subsidiary of the Metropolitan Transportation Authority ... To determine if the Metro-North Railroad (Metro-North) used American Recovery and Reinvestment Act (Recovery Act) funds efficiently and for authorized purposes, and whether the funds were properly monitored to prevent fraud, waste and abuse. Our audit covered the period April 30, 2009 to June 30, 2012. Background Metro-North, a subsidiary of the Metropolitan Transportation Authority (MTA), has four projects funded by the Recovery Act, namely, Poughkeepsie Station Building-Doors/Window ($4.6 million), Grand Central Terminal Elevators ($7.7 million), Grand Central Terminal Facilities Rehabilitation ($22.7 million), and Tarrytown Station Improvement ($37.3 million). Key Finding • Our review of Metro-North’s monitoring of employees paid with Recovery Act funds found that Metro-North officials could better monitor their employees to ensure that Recovery Act funds are used for authorized purposes and instances of fraud, waste and abuse are mitigated. MetroNorth officials should improve the timekeeping method used for conductors to better ensure they are actually working the hours they are paid for, require that all overtime is pre-approved and justified prior to being worked, and consider whether it is the most efficient practice and whether government funds are being wasted by paying conductors 2 hours and 40 minutes of overtime every day for indirect tasks such as changing their clothes, washing up, and traveling to and from the project site. Also, an unannounced visit to the Tarrytown Station found one conductor was not at his assigned post when a train made a stop. Key Recommendations • Monitor employees’ time and attendance to ensure that they are only paid for actual hours worked. • Establish agency-wide policies and procedures that govern the use, pre-approval and justification of overtime. • Ensure the most efficient practices are in place and government funds are not wasted by paying overtime for indirect tasks such as employees changing their clothes, washing up and traveling to and from the project site. • Monitor conductors to make sure that they are on site and working at their assigned posts to better ensure the safety of passengers, contract workers and other Metro-North employees when trains stop at a station during ongoing track work. Other Related Audit/Report of Interest Metropolitan Transportation Authority/Long Island Rail Road: Overtime and Other Time and Attendance Matters Found in the Use of Certain Federal Funds (2010-S-2) Division of State Government Accountability

AutoCAD Command Shortcuts
by nami 0 Comments favorite 21 Viewed Download 0 Times

AutoCAD Command Shortcuts IN THIS GUIDE This guide lists AutoCAD shortcuts in groups according to the command sequence. For example, all text relevant shortcuts are grouped together. Quick Link BLOCKS 5 COMMON COMMANDS 5 CONTROL KEYS 5 COORDINATE ENTRY 5 DIMENSIONING 5 DRAWING OBJECTS 5 EXTERNAL REFERENCE 5 FORMATTING 5 FUNCTION KEYS 5 INQUIRY 5 LAYERS 5 MODIFYING OBJECTS 5 OBJECT SELECTION 5 OBJECT SNAP 5 TEXT 5 3D 5 UCS 5 VIEWPORTS 5 Notes: 1. Generally a shortcut prefixed with ” -“ will suppress the associated dialogue from appearing. 2. Some of the following shortcuts only work with AutoCAD 2006. 3. Not all of the shortcuts listed work with AutoCAD LT. BLOCKS SHORTCUT COMMAND COMMENT ATT ATTDEF Opens attribute definition dialogue box ATTEDIT ATTEDIT Edit attribute values for a specific block B BLOCK Opens block dialogue box in order to make a block BATTMAN BATTMAN Opens block attribute manager BATTORDER BATTORDER Displays attribute order dialogue box BC BCLOSE Closes the block editor BCOUNT BCOUNT Counts the blocks in a drawing BE BEDIT Opens the edit block definition dialogue box EATTEXT EATTEXT Enhanced attribute extraction wizard to count blocks GATTE GATTE Global attribute edit of multiple blocks I INSERT Opens insert dialogue to insert a block -I INSERT Insert a block by name MINSERT MINSERT Insert block in rectangular array REFEDIT REFEDIT Edit a block reference in place REN RENAME Opens rename dialogue box to rename blocks, layers, etc W WBLOCK Write a block - for use in other drawings XLIST XLIST Lists type/block name/layer name/color/linetype of a nested object in a block or an xref Page 1 of 13 © 2007 H O MEM IC R O AutoCAD C ommand Shortcuts www.homemicro.co.uk C AD _003 TIPS 1. 2. 3. Create a new block on layer 0 so that the block will use the layer and properties of the current layer it is inserted on. Text can be set to colour white. Set ATTDIA to 1 to use dialog box with block attributes or 0 to use command line. AutoCAD 2006 allows you to change the insertion point on the fly. INSERT and select BASEPOINT. This allows you to pick anywhere in the drawing (and anywhere in the block you are inserting) as your new insertion point (basepoint). COMMON COMMANDS SHORTCUT COMMAND COMMENT A ARC Draw an arc AL ALIGN Align an object with another AP APPLOAD Opens application load dialogue box AR ARRAY Opens array dialogue box AUDIT AUDIT Audit drawing for errors AV DSVIEWER Opens ariel view of drawing B BLOCK Opens block dialogue box C CIRCLE Draw a circle CO COPY Copy an object CHA CHAMFER Chamfer between 2 non-parallel lines COL COLOR Opens select color dialogue box CUI Opens customise user interface dialogue D DIMSTYLE Opens dimstyle manager DC ADCENTER Opens designcenter DI DIST Check a distance  ...

Laporan lengkap
by Hermawan 0 Comments favorite 76 Viewed Download 0 Times

Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar refleksi fenomena alam yang secara geografis sangat khas untuk wilayah tanah air kita. Indonesia merupakan Negara kepulauan tempat dimana tiga lempeng besar dunia bertemu, yaitu: lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Interaksi antar lempeng-lempeng tersebut lebih lanjut menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang memiliki aktivitas kegunungapian dan kegempaan yang cukup tinggi. Lebih dari itu, proses dinamika lempeng yang cukup intensif juga telah membentuk relief permukaan bumi yang khas dan cukup bervariasi, dari wilayah pegunungan dengan lereng-lerengnya yang curam dan seakan menyiratkan potensi longsor yang tinggi hingga wilayah yang landai sepanjang pantai dengan potensi ancaman banjir, penurunan tanah dan tsunaminya (Sadisun, 2005-2006). Berbagai potensi bencana alam yang mungkin timbul sudah sebaiknya harus kita kenal agar karakter bahaya alam tersebut dapat kita minimalkan dampaknya. Selain itu, potensi bencana alam ini telah diperparah oleh beberapa permasalahan lain yang muncul di tanah air kita yang memicu peningkatan kerentanannya. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi merupakan salah satu contoh nyata, sehingga akan banyak membutuhkan kawasan-kawasan hunian baru yang pada akhirnya kawasan hunian tersebut akan terus berkembang dan menyebar hingga mencapai wilayah-wilayah marginal yang tidak selayaknya dihuni. Tidak tertib dan tepatnya perencanaan tata guna lahan, sebagai inti dari permasalahan ini merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya peningkatan kerentanan. Peningkatan kerentanan ini akan lebih diperparah bila masyarakat sama sekali tidak menyadari dan tanggap terhadap adanya potensi bencana alam di daerahnya. Pengalaman memperlihatkan bahwa kejadian-kejadian bencana alam selama ini telah banyak menimbulkan kerugian dan penderitaan yang cukup berat sebagai akibat dari perpaduan bahaya alam dan kompleksitas permasalahan lainnya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang komprehensif untuk mengurangi resiko bencana alam, antara lain yaitu dengan melakukan kegiatan migitasi. Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen bahaya (hazard) yang berupa fenomena alam/buatan di satu pihak, dengan kerentanan (vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai tingkat kapasitas/kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat bahaya yang mungkin terjadi padanya. Misalnya, letusan G. Merapi dan bahaya lainnya gempa bumi, banjir, gerakan tanah, dan lainnya tidak akan sertamerta menjadi bencana apabila komunitas memiliki kapasitas mengelola bahaya. Bencana cenderung terjadi pada komunitas yang rentan, dan akan membuat komunitas semakin rentan. Kerentanan komunitas diawali oleh kondisi lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi yang tidak aman (unsave conditions) yang melekat padanya. Kondisi tidak aman tersebut terjadi oleh tekanan dinamis internal maupun eksternal (dynamic pressures), misalnya di komunitas institusi lokal tidak berkembang dan ketrampilan tepat guna tidak dimiliki. Tekanan dinamis terjadi karena terdapat akar permasalahan (root causes) yang menyertainya. Akar permasalahan internal umumnya karena komunitas tidak mempunyai akses sumberdaya, struktur dan kekuasaan, sedang secara eksternal karena sistem politik dan ekonomi yang tidak tepat. Oleh karenanya penanganan bencana perlu dilakukan secara menyeluruh dengan meningkatkan kapasitas dan menangani akar permasalahan untuk mereduksi resiko secara total. Siklus penanggulangan bencana yang perlu dilakukan secara utuh. Upaya pencegahan (prevention) terhadap munculnya dampak adalah perlakuan utama. Tsunami tidak dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan pada bahaya yang manusia terlibat langsung maupun tidak langsung. Pada tsunami misalnya. Pencegahan dapat dilakukan rakyat dengan membuat bendung penahan ombak, bangunan panggung tahan ombak, penataan ruang dan sebagainya. Agar tidak terjadi jebolnya tanggul, maka perlu disusun save procedure dan kontrol terhadap kepatuhan perlakuan. Walaupun pencegahan sudah dilakukan, sementara peluang adanya kejadian masih ada, maka perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi...

U.S. Permanent Residence/Green Card 101 - International Programs

#2 - Employment-Based (EB) Employer-Sponsored PR: U.S. employers are not required or obligated to sponsor PR for any foreign worker; it is the employer’s choice. If the employer chooses to sponsor a FN hired into an eligible position, the employer pays all costs. The U.S. Department of Labor (DOL) has strict rules which focus on protecting U.S. workers, that is, no minimally qualified U.S. workers are able to fill the position and the employment of a foreign worker will not adversely affect the wages and working conditions of similarly employed U.S. workers. These rules include: 1. Eligible position: It must be a permanent full-time position. 2. Recruiting U.S. workers for the job opportunity: If a U.S. employer chooses to sponsor a FN for PR, DOL requires the employer to conduct a full bona fide recruitment to make the permanent full-time job available to U.S. workers. Though this type of recruitment serves the purpose for the sponsoring employer to document and verify to DOL that the permanent full-time job opportunity is indeed open and available to U.S. workers, anyone can apply since it is a full bona fide recruitment. 3. Job advertisement: The job requirements must adhere to what is customarily required for the occupation in the U.S. and may not be tailored to the foreign worker’s qualifications. In addition, the employer shall document that the job opportunity is described without unduly restrictive job requirements, unless adequately documented as arising from business necessity. 4. Wages: The employer must pay at least the prevailing wage set by DOL. 5. Recruitment report: The employer must prepare a recruitment report in which it categorizes the lawful jobrelated reasons for rejection of U.S. applicants and provide the number of U.S. applicants rejected in each category. The recruitment report does not have to identify the individual U.S. applicants; however, if requested by the Certifying Officer, the employer must submit copies of the application materials. 6. Audits/requests for information: The employer must provide the required supporting documentation if the employer's application is selected for audit or if the Certifying Officer requests it. 7. Retention of records: The employer is required to retain copies of application materials and all supporting documentation.

Tags: green card, Arts,
The Risk Perspective - The Institute of Internal Auditors

Much has been written about the need for organizations to improve their risk management capability. The collapse of Enron, the WorldCom scandal, the 2008 financial crisis, BP’s Deepwater Horizon disaster and the European debt crisis have all been examples called out by regulators and news media evidencing the need for more inclusive, effective risk management practices and oversight. The IIA and RIMS believe that collaboration between the disciplines of internal audit and risk management, can lead to stronger risk practices in meeting stakeholder expectations. The two functions make a powerful team when they collaborate and leverage one another’s resources, skill sets and experiences to build risk capabilities within their organizations. The adage, “the sum is greater than the parts,” certainly applies. And, it is clear that leading organizations have discovered efficiencies, better decision-making and improved results by forming strong alliances between the risk management and internal audit functions. Traditionally, risk managers have approached their duties with an eye towards protecting the organization’s assets and balance sheet, while internal auditors have been concerned with reviewing the efficiencies and effectiveness of internal controls. But before we explore how these two groups can form an effective collaboration, it will be helpful to take a more in-depth look at their specific roles and responsibilities within an organization. The Roles and Responsibilities of Risk Management Over time, the risk management function has evolved in line with changing business needs, in order to deliver recognized additional value to organizations (Figure 1). The risk manageFigure 1

LCA By-Laws - Little Creek American Baseball & Softball

OUR MISSION Embedded in the PONY Baseball motto, “PROTECT OUR NATIONS YOUTH” is a philosophy that emphasizes good sportsmanship and fair play. Accordingly, one of our primary goals at LCA is to ensure that an atmosphere of good sportsmanship and fair play prevails throughout the entire league. In addition ensuring that every adult and child associated with LCA abides by the specific rules that govern our league as well as the rules of PONY Baseball / ASA Softball. It is important to remember that the attainment of exceptional athletic skill and winning is secondary to the welfare and self-esteem of our players. The purpose of our league is to give as many children as possible the opportunity to participate, to learn the game of baseball / softball, and feel good about their achievements. These are only games for children and not to win or die situation. The aforementioned officers shall be elected at an annual meeting of the league. The election shall be held no later than June 15. A secret ballot voting process will do this, with a three-person committee to tally votes. The committee will be comprised of the leagues Vice President, Commissioner and Secretary. The newly elected officers shall have a transition period to learn the responsibilities of their assumed positions. The descending officers shall make every opportunity to provide a thorough pass down of information to their successor. The new Board of Directors shall assume their appointed positions on August 15. The only exceptions shall be the President and Treasurer, which will descend after the August 15 deadline with the completion of the base audit, but no later than November 1.

menggunakan buku pelajaran dengan efektif.pdf - Staff UNY

Buku pelajaran merupakan salah satu sumber belajar yang memberikan andil cukup besar dalam upaya memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran (B.P. Sitepu, 2005: 114). Kebutuhan akan buku pelajaran semakin terasa ketika jumlah dan mutu guru yang tersedia belum memadai. Di tempat-tempat tertentu, masih banyak guru yang mengandalkan buku pelajaran sebagai satu-satunya sumber belajar dan pembelajaran. Guru mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran dengan mengacu sepenuhnya pada isi buku pelajaran. Siswa juga menggunakan buku pelajaran di sekolah dan di rumah sebagai sumber belajar utama. Kebijakan tiap sekolah dalam memberikan buku pelajaran secara gratis untuk setiap siswa didasarkan pada prinsip perlakuan yang sama dan kesetaraan kesempatan. Karena alasan inilah, buku pelajaran secara luas digunakan dan bisa dipastikan akan terus digunakan sampai tahun-tahun mendatang. Hal ini terlihat dari keberterimaan yang relatif luas terhadap buku pelajaran sebagai sumber belajar yang berharga, khususnya bagi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mulai belajar bagaimana menggunakan buku-buku ini dengan efektif. Tulisan ini mencoba menawarkan cara menggunakan buku pelajaran IPS dengan efektif kepada para guru di sekolah dasar sehingga sedapat mungkin mampu memenuhi tuntutan kurikulum serta dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Kompleksitas Materi dalam Buku Pelajaran IPS Buku pelajaran IPS SD merupakan buku pegangan guru dalam menyajikan materi kurikulum. Apabila dicermati, meskipun penulisan buku tersebut sudah disesuaikan dengan tingkat kemampuan pembacanya, masih ada saja permasalahan yang berkaitan dengan kesulitan membaca yang dihadapi siswa. Hal ini bisa terjadi karena buku-buku ini dirancang untuk menangani konten substantif. Artinya, istilah dan konsep yang berkaitan dengan subjek harus digunakan ketika menjelaskan ide-ide yang disajikan. Sebagai contoh, dalam buku dituliskan  ...

KAJIAN TEORI - Deskripsi Teoretik Buku Pelajaran

Buku merupakan salah satu media pembelajaran yang berupa tulisan yang dituangkan ke dalam kertas atau buku dapat digolongkan ke media pembelajaran berupa media cetak. Dalam salah satu hierarki media yang paling kompleks yaitu menurut Gagne (dalam Arief Sadiman, 2011: 23), Gagne mennggolongkan media yang dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut hierarki belajar yang dikembangkan yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, memberi kondisi eksternal, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alihilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik. Dari beberapa fungsi tersebut, Media cetak memiliki keterbatasan pada aspek stimulus dan alih kemampuan. Sedangkan pada fungsi pengarah perhatian/kegiatan, contoh kemampuan terbatas yang diharapkan, isyarat eksternal, tuntutan cara berpikir penilaian hasil dan umpan balik sudah terdapat didalamnya. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses mentransfer ilmu maupun nilai agar peserta didik bertambah nilai dirinya. Menurut Arief Sadiman (2011: 11-12), proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran media tertentu ke penerima pesan. Dalam hal ini saluran media merupakan media pembelajaran. Menurut Umar Suwito (dalam Suharsimi Arikunto, 1987: 15) media pembelajaran adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menampilkan pelajaran. Sedangkan pengretian lebih luasnya, media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Fungsi dari media pembelajaran adalah (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat versibilatas, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, (3) penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta didik, dan (4) dengan sifat yang unik pada setiap anaka ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri (Arief Sadiman, 2011: 17). Pengelompokan berbagai jenis media telah dikemukakan oleh berbagai ahli. Menurut Leshin, Pollock & Reigulth (dalam Azhar Arsyad, 2011: 36) mengklasifikasikan media menjadi 5 macam, yaitu: 1. Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, field-trip, kegiatan kelompok), 2. Media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan (worksheet), alat kerja bantu, lembar lepas), 3. Media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan grafik, peta, gambar transparansi, slide), 4. Media berbasis audio visual (video, film, ...

Does a simple educational exercise influence practice in acute tonsillitis in children?

Shirley Mulvaney, Simon Attard Montalto Abstract Aim: To assess the concordance of treatment of children attending with tonsillitis in Paediatric Accident and Emergency with established guidelines, and subsequent review of the management of this condition after a simple educational exercise. Methods: An audit on children with tonsillitis was carried out amongst doctors working in the Paediatric Accident and Emergency Department during a three month period in 2009. Eleven doctors completed an anonymous questionnaire requesting details on presentation, symptoms, investigations and treatment of children presenting with acute tonsillitis. The results obtained from this questionnaire were compared to NICE guidelines and modified Centor (McIsaac) criteria, and fed back to the participating doctors together with copies of these guidelines via a simple, structured educational exercise. Three months later, a second identical questionnaire was again completed by the same cohort of doctors. Shirley Mulvaney MD Simon Attard Montalto MD (L’pool), FRCPCH, FRCP * Chairman, Department of Paediatrics NPICU Mater Dei Hospital ,Malta. simon.attard-montalto@gov.mt *corresponding author Malta Medical Journal Volume 25 Issue 03 2013 Results: The first questionnaire showed that there was a tendency towards unnecessary prescription of antibiotics and investigations in children with acute tonsillitis, when compared to recommendations in the guidelines. Following educational feedback, the second questionnaire showed a reduction in antibiotic prescriptions by 9% (p=0.5) and investigations by 37% (p=0.1). Compliance with guidelines had improved significantly with regard to non-prescribing of antibiotics with a fever of <38oC (Phi -0.76, p=0.0005), and with tonsillar pus but no fever (Phi -0.68, p=0.002). Increased compliance was observed when prescribing antibiotics in the presence of pus plus a fever, lymphadenopathy >1cm and presence of underlying disease although these changes were not statistically significant. Conclusion: Although doctors were initially only partly compliant with established guidelines for children with acute tonsillitis, compliance improved significantly after a simple educational exercise.

 123456789