SEARCH

Found 478 related files. Current in page 3

contoh laporan audit koperasi

1967 kb/s - Contoh Laporan Audit Koperasi Full Download


2157 kb/s - [Verified] Contoh Laporan Audit Koperasi


2864 kb/s - Contoh Laporan Audit Koperasi Direct Download

Partai DEMOKRAT - KPU Kabupaten Kepulauan Anambas

PARTAI POLITIK PARTAI DEMOKRAT DEWAN PIMPINAN CABANG KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS DAFTAR LAPORAN PENERIMAAN SUMBANGAN DANA KAMPANYE PERIODE I BENTUK SUMBANGAN DANA KAMPANYE' ASAL SUMBANGAN DANA KAMPANYE No. BARANG UANG (Rp) (Rp) 1 Partai Politik Calon Legislatif - Unit (Rp) Keterangan Unit - 2 JUMLAH (Rp) JASA 379,136,800 409,136,800 4,450,000 4,450,000 5,400,000 5,400,000 1,150,000 1,150,000 5,650,000 5,650,000 4,950,000 4,950,000 a. Daerah Pemilihan : Kepulauan Anambas 1 1) Nomor Urut : 1 Nama Calon : Wann Sarros, SE 2) Nomor Urut : 2 Nama Calon : Mardiah 3) Nomor Urut : 3 Nama Calon : Tarmizi AJ 4) Nomor Urut : 4 Nama Calon : Arly Yanton Eigh Nova Damanik, SP 5) Nomor Urut : 5 Nama Calon : Zainah 6) Nomor Urut : 6 Nama Calon : Zaleha 7) 30,000,000 Nomor Urut : 7 BENTUK SUMBANGAN DANA KAMPANYE' ASAL SUMBANGAN DANA KAMPANYE No. (Rp) Nama Calon : Rohmad Maulana, S.Kom 8) (Rp) JUMLAH (Rp) JASA Unit (Rp) Unit 1,450,000 1,450,000 1,450,000 1,450,000 3,210,000 3,210,000 78,894,000 79,894,000 450,000 450,000 8,000,000 8,000,000 550,000 550,000 7,850,000 7,850,000 8,130,000 8,130,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 31,000,000 51,000,000 Nomor Urut : 8 Nama Calon : Sri Yani 9) BARANG UANG Nomor Urut : 9 Nama Calon : Azwar, ST b. Daerah Pemilihan : Kepulauan Anambaas 2 1) b...

The Risk Perspective - The Institute of Internal Auditors

Much has been written about the need for organizations to improve their risk management capability. The collapse of Enron, the WorldCom scandal, the 2008 financial crisis, BP’s Deepwater Horizon disaster and the European debt crisis have all been examples called out by regulators and news media evidencing the need for more inclusive, effective risk management practices and oversight. The IIA and RIMS believe that collaboration between the disciplines of internal audit and risk management, can lead to stronger risk practices in meeting stakeholder expectations. The two functions make a powerful team when they collaborate and leverage one another’s resources, skill sets and experiences to build risk capabilities within their organizations. The adage, “the sum is greater than the parts,” certainly applies. And, it is clear that leading organizations have discovered efficiencies, better decision-making and improved results by forming strong alliances between the risk management and internal audit functions. Traditionally, risk managers have approached their duties with an eye towards protecting the organization’s assets and balance sheet, while internal auditors have been concerned with reviewing the efficiencies and effectiveness of internal controls. But before we explore how these two groups can form an effective collaboration, it will be helpful to take a more in-depth look at their specific roles and responsibilities within an organization. The Roles and Responsibilities of Risk Management Over time, the risk management function has evolved in line with changing business needs, in order to deliver recognized additional value to organizations (Figure 1). The risk manageFigure 1

LCA By-Laws - Little Creek American Baseball & Softball

OUR MISSION Embedded in the PONY Baseball motto, “PROTECT OUR NATIONS YOUTH” is a philosophy that emphasizes good sportsmanship and fair play. Accordingly, one of our primary goals at LCA is to ensure that an atmosphere of good sportsmanship and fair play prevails throughout the entire league. In addition ensuring that every adult and child associated with LCA abides by the specific rules that govern our league as well as the rules of PONY Baseball / ASA Softball. It is important to remember that the attainment of exceptional athletic skill and winning is secondary to the welfare and self-esteem of our players. The purpose of our league is to give as many children as possible the opportunity to participate, to learn the game of baseball / softball, and feel good about their achievements. These are only games for children and not to win or die situation. The aforementioned officers shall be elected at an annual meeting of the league. The election shall be held no later than June 15. A secret ballot voting process will do this, with a three-person committee to tally votes. The committee will be comprised of the leagues Vice President, Commissioner and Secretary. The newly elected officers shall have a transition period to learn the responsibilities of their assumed positions. The descending officers shall make every opportunity to provide a thorough pass down of information to their successor. The new Board of Directors shall assume their appointed positions on August 15. The only exceptions shall be the President and Treasurer, which will descend after the August 15 deadline with the completion of the base audit, but no later than November 1.

menggunakan buku pelajaran dengan efektif.pdf - Staff UNY

Buku pelajaran merupakan salah satu sumber belajar yang memberikan andil cukup besar dalam upaya memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran (B.P. Sitepu, 2005: 114). Kebutuhan akan buku pelajaran semakin terasa ketika jumlah dan mutu guru yang tersedia belum memadai. Di tempat-tempat tertentu, masih banyak guru yang mengandalkan buku pelajaran sebagai satu-satunya sumber belajar dan pembelajaran. Guru mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran dengan mengacu sepenuhnya pada isi buku pelajaran. Siswa juga menggunakan buku pelajaran di sekolah dan di rumah sebagai sumber belajar utama. Kebijakan tiap sekolah dalam memberikan buku pelajaran secara gratis untuk setiap siswa didasarkan pada prinsip perlakuan yang sama dan kesetaraan kesempatan. Karena alasan inilah, buku pelajaran secara luas digunakan dan bisa dipastikan akan terus digunakan sampai tahun-tahun mendatang. Hal ini terlihat dari keberterimaan yang relatif luas terhadap buku pelajaran sebagai sumber belajar yang berharga, khususnya bagi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mulai belajar bagaimana menggunakan buku-buku ini dengan efektif. Tulisan ini mencoba menawarkan cara menggunakan buku pelajaran IPS dengan efektif kepada para guru di sekolah dasar sehingga sedapat mungkin mampu memenuhi tuntutan kurikulum serta dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Kompleksitas Materi dalam Buku Pelajaran IPS Buku pelajaran IPS SD merupakan buku pegangan guru dalam menyajikan materi kurikulum. Apabila dicermati, meskipun penulisan buku tersebut sudah disesuaikan dengan tingkat kemampuan pembacanya, masih ada saja permasalahan yang berkaitan dengan kesulitan membaca yang dihadapi siswa. Hal ini bisa terjadi karena buku-buku ini dirancang untuk menangani konten substantif. Artinya, istilah dan konsep yang berkaitan dengan subjek harus digunakan ketika menjelaskan ide-ide yang disajikan. Sebagai contoh, dalam buku dituliskan  ...

KAJIAN TEORI - Deskripsi Teoretik Buku Pelajaran

Buku merupakan salah satu media pembelajaran yang berupa tulisan yang dituangkan ke dalam kertas atau buku dapat digolongkan ke media pembelajaran berupa media cetak. Dalam salah satu hierarki media yang paling kompleks yaitu menurut Gagne (dalam Arief Sadiman, 2011: 23), Gagne mennggolongkan media yang dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut hierarki belajar yang dikembangkan yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, memberi kondisi eksternal, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alihilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik. Dari beberapa fungsi tersebut, Media cetak memiliki keterbatasan pada aspek stimulus dan alih kemampuan. Sedangkan pada fungsi pengarah perhatian/kegiatan, contoh kemampuan terbatas yang diharapkan, isyarat eksternal, tuntutan cara berpikir penilaian hasil dan umpan balik sudah terdapat didalamnya. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses mentransfer ilmu maupun nilai agar peserta didik bertambah nilai dirinya. Menurut Arief Sadiman (2011: 11-12), proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran media tertentu ke penerima pesan. Dalam hal ini saluran media merupakan media pembelajaran. Menurut Umar Suwito (dalam Suharsimi Arikunto, 1987: 15) media pembelajaran adalah salah satu sarana yang digunakan untuk menampilkan pelajaran. Sedangkan pengretian lebih luasnya, media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Fungsi dari media pembelajaran adalah (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat versibilatas, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, (3) penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta didik, dan (4) dengan sifat yang unik pada setiap anaka ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri (Arief Sadiman, 2011: 17). Pengelompokan berbagai jenis media telah dikemukakan oleh berbagai ahli. Menurut Leshin, Pollock & Reigulth (dalam Azhar Arsyad, 2011: 36) mengklasifikasikan media menjadi 5 macam, yaitu: 1. Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, field-trip, kegiatan kelompok), 2. Media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan (worksheet), alat kerja bantu, lembar lepas), 3. Media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan grafik, peta, gambar transparansi, slide), 4. Media berbasis audio visual (video, film, ...

Does a simple educational exercise influence practice in acute tonsillitis in children?

Shirley Mulvaney, Simon Attard Montalto Abstract Aim: To assess the concordance of treatment of children attending with tonsillitis in Paediatric Accident and Emergency with established guidelines, and subsequent review of the management of this condition after a simple educational exercise. Methods: An audit on children with tonsillitis was carried out amongst doctors working in the Paediatric Accident and Emergency Department during a three month period in 2009. Eleven doctors completed an anonymous questionnaire requesting details on presentation, symptoms, investigations and treatment of children presenting with acute tonsillitis. The results obtained from this questionnaire were compared to NICE guidelines and modified Centor (McIsaac) criteria, and fed back to the participating doctors together with copies of these guidelines via a simple, structured educational exercise. Three months later, a second identical questionnaire was again completed by the same cohort of doctors. Shirley Mulvaney MD Simon Attard Montalto MD (L’pool), FRCPCH, FRCP * Chairman, Department of Paediatrics NPICU Mater Dei Hospital ,Malta. simon.attard-montalto@gov.mt *corresponding author Malta Medical Journal Volume 25 Issue 03 2013 Results: The first questionnaire showed that there was a tendency towards unnecessary prescription of antibiotics and investigations in children with acute tonsillitis, when compared to recommendations in the guidelines. Following educational feedback, the second questionnaire showed a reduction in antibiotic prescriptions by 9% (p=0.5) and investigations by 37% (p=0.1). Compliance with guidelines had improved significantly with regard to non-prescribing of antibiotics with a fever of <38oC (Phi -0.76, p=0.0005), and with tonsillar pus but no fever (Phi -0.68, p=0.002). Increased compliance was observed when prescribing antibiotics in the presence of pus plus a fever, lymphadenopathy >1cm and presence of underlying disease although these changes were not statistically significant. Conclusion: Although doctors were initially only partly compliant with established guidelines for children with acute tonsillitis, compliance improved significantly after a simple educational exercise.

INTERIOR DESIGN - BGSU
by raul 0 Comments favorite 22 Viewed Download 0 Times

BG PERSPECTIVE REQUIREMENTS GSW 1120 ( GSW 1100/1110) Quantitative Literacy (Group A Recommended) Elective Natural Science Elective Elective Social and Behavioral Sciences Elective Elective Humanities and Arts Elective Elective Cultural Diversity in the United States Elective Additional BG Perspective Course Elective One BG Perspective course from above is an International Perspective course CHOOSE ONE COURSE FROM THE FOLLOWING: _________ FCS 4800 Modernist Design Architecture _________ FCS 4800 Modernist Design Thinking _________ FCS 3950 Design Analysis _________ FCS 3950 Vanguard Design Composition _________ FCS 4800 Euro. Culture & Design (Study Abr) **Can also be used to fulfill one of the electives in BG Perspective requirements. All interior design core courses offered through the interior design program must be completed for a letter grade requirement. Faculty strongly encourage interior design majors to complete a work co-op as this greatly improves employment opportunities upon graduation. Completion of all coursework on this checksheet results in fewer than 122 hours. A minor is not required; however, students should choose to complete their electives by selecting courses which reinforce their major. ID students may also choose a minor to complete the minimum hours required for graduation. See University catalog for possible minors on the web at www.bgsu.edu/catalog/minors.html. At least 30 credit hours must be BGSU courses. Degree Audit Report (DAR) is available on MyBGSU. This is an unofficial record of a student’s progress.

media kit - Phoenix Home & Garden Magazine

Luxury audience? Your search ends here. For 33 years, Phoenix Home & Garden’s experienced writers, editors and designers have served as the authoritative voice on Southwest style, providing fine ideas for the Southwest home and regionally-suited advice for growing plants in the desert. Filled with inspiring articles, breathtaking photography, a local events calendar, art gallery updates and more, Phoenix Home & Garden is the ultimate guide to the luxury Southwest lifestyle. Phoenix Home & Garden ranked among other regional titles as a top circulation gainer in the United States this past decade. Additionally, our advertisers are plentiful, diverse and loyal because our affluent, sophisticated readers are engaged and responsive... ...Sources: Audit Bureau of circulation’s statement June 2012, subject to audit. The Insight Group, 2007. Experian, 2008. *Audience based upon Phoenix Home & Garden magazine’s total circulation. Pass-along circulation based upon 2.6 readers per copy, Magazine Publishers of America Circulation Metrics 2010... ...No media speaks to affluent devotees of the Southwest luxury lifestyle as directly and cost-effectively as Phoenix Home & Garden magazine. However, Phoenix Home & Garden magazine does far more than simply “reach” an attractive audience; we make you a part of our readers’ lives in a way that few other publications can...

1.1 latar belakang
by Hermawan 0 Comments favorite 72 Viewed Download 0 Times

BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah dengan karateristik geologi dan geografis yang cukup beragam pegunungan/dataran tinggi. Adanya mulai dari perbedaan kawasan karateristik pantai ini hingga menyebabkan perbedaan perlakuan pada masing-masing kawasan, terutama pada kawasan kawasan yang dimungkinkan sebagai kawasan rawan bencana alam. Kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalamai bencana alam. Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia. Kriteria kawasan kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor dan kebakaran. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungannya menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam yang berakibat kerugian material dan sumberdaya. Penataan ruang yang tepat merupakan salah satu upaya mitigasi bencana (mencegah bencana atau mengurangi efek dari bencana). Selain itu peta rawan bencana yang ada juga bisa dijadikan alat dalam menyusun rencana tata ruang dalam mengambil kebijakan Selain itu, ketegasan pemerintah daerah dalam penerapan zoning regulation (peraturan zona) yang menjadi acuan dalam pemberian ijin mana kawasan yang boleh atau tidak boleh dibangun juga diperlukan sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang. Ditambah dengan adanya kejelasan dalam mekanisme pemberian insetif atau disinsentif praktek pembangunan di kawasan rawan bencana. Laporan Akhir Studi Identifikasi Kawasan Rawan Bencana Di Kabupaten Probolinggo

Lampiran 9. FILE LAPORAN KEGIATAN BIMBINGAN ... - PKPP

LAPORAN KEGIATAN BIMBINGAN TEKNIS DAN KOORDINASI KE-2 Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) RISTEK 2012 PENGUATAN KAPASITAS DAERAH DALAM PEMANFAATAN DATA PALSAR UNTUK PENGURANGAN RISIKO DAN MITIGASI BENCANA Peneliti Utama: Fajar Yulianto, S.Si. Anggota Peneliti: Parwati, S.Si, M.Sc. Dra. Any Zubaidah, M.Si. Kusumaning Ayu D.S, S.T Junita Monica Pasaribu, S.Si. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Kedeputian Penginderaan Jauh LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN) Jalan LAPAN no. 70, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta 13710, Indonesia Tel./Fax : (021) 8722733 Latar Belakang Kondisi geografis wilayah Indonesia sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam yang tidak dapat dihindari. Akibat dari bencana tersebut dapat dikurangi dengan melakukan kegiatan manejemen bencana yang baik. Terdapat tiga fase penting dalam kegiatan menajemen bencana, yaitu: fase sebelum bencana, pada saat bencana, dan setelah bencana. Mengacu pada pedoman untuk menajemen kesiapsiagaan insiden dan kontinuitas operasi, usaha-usaha yang dilakukan pada setiap fase dapat mengurangi dampak insiden dan usaha mempersingkat periode gangguan (Gambar 1). Gambar 1. menunjukkan bahwa setelah persingkat dilakukan menajemen bencana yang baik pada fase sebelum, saat, dan sesudah bencana dapat mengurangi dampak insiden/bencana dan juga mempersingkat periode bencana. Gambar 1. Konsep Pengurangan dampak insiden / bencana (sumber ISO/PAS 22399) Konsep emergency response yang ada pada saat ini telah dilakukan oleh LAPAN dan dapat dijelaskan dalam Gambar 2. Gambar 2 menunjukkan kegiatan pemanfaatan data penginderaan jauh untuk quick response yang telah dilakukan oleh LAPAN. Kegiatan pemanfaatan data penginderaan jauh telah dilakukan dengan memberikan informasi lokasi bencana, kondisi ...

 123456789