SEARCH

Found 295 related files. Current in page 1

contoh interval statistika

SMART SOLUTION Tes Potensi Akademik SBMPTN 2013

Rangkuman Materi SBMPTN 2013 SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI Disertai Teori Ringkas dan Pembahasan Soal Tes Potensi Akademik (TPA) Disusun Oleh : Pak Anang Kumpulan SMART SOLUTION dan TRIK SUPERKILAT Ringkasan Materi SBMPTN Tes Potensi Akademik (TPA) Penalaran Verbal (Sinonim, Antonim, dan Analogi) By Pak Anang (http://pak-anang.blogspot.com) A. PENALARAN VERBAL 1. SINONIM (Padanan Kata) Soal-soal sinonim, kemampuan yang dituntut adalah adik-adik mampu mencari arti dari sebuah kata pada pilihan jawaban yang tersedia. Tips agar adik-adik mudah menyelesaikan soal tentang sinonim adalah sering membaca. Nah, saat menemukan kata-kata asing, jangan ditinggalkan begitu saja, catat dan coba mencari padanan katanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. TRIK SUPERKILAT: Seringkali ada pilihan jawaban yang hampir mirip dengan soal. Biasanya jawaban ini adalah diberikan sebagai jawaban jebakan. Contoh soal sinonim: PARTIKELIR = .... A. Tukang parkir B. Partisan C. Partisi D. Swasta E. Enterprener Pembahasan: Jawaban B dan C mirip dengan kata yang digunakan pada soal. Biasanya ini mudah kita eliminasi sebagai jebakan jawaban..... Sehingga mempemudah kita dalam menjawab soal sinonim ini. Jawaban yang tepat adalah ”swasta”. 2. ANTONIM (Lawan Kata) Soal tentang antonim ini kebalikan dari sinonim. Dalam soal antonim adik-adik dituntut untuk mencari lawan kata dari soal yang diberikan. Contoh soal antonim: TERKATUNG A.Melayang B.Pasti C.Ombak D.Terperosok E.Terbenam

Overestimated global warming over the past 20 years

G lobal mean surface temperature over the past 20 years (1993–2012) rose at a rate of 0.14 ± 0.06 °C per decade (95% confidence interval)1. This rate of warming is significantly slower than that simulated by the climate models participating in Phase 5 of the Coupled Model Intercomparison Project (CMIP5). To illustrate this, we considered trends in global mean surface temperature computed from 117 simulations of the climate by 37 CMIP5 models (see Supplementary Information). These models generally simulate natural variability — including that associated with the El Niño–Southern Oscillation and explosive volcanic eruptions — as well as estimate the combined response of climate to changes in greenhouse gas concentrations, aerosol abundance (of sulphate, black carbon and organic carbon, for example), ozone concentrations (tropospheric and stratospheric), land use (for example, deforestation) and solar variability. By averaging simulated temperatures only at locations where corresponding observations exist, we find an average simulated rise in global mean surface temperature of 0.30 ± 0.02 °C per decade (using 95% confidence intervals on the model average). The observed rate of warming given above is less than half of this simulated rate, and only a few simulations provide warming trends within the range of observational uncertainty (Fig. 1a). The inconsistency between observed and simulated global warming is even more striking for temperature trends computed over the past fifteen years (1998–2012). For this period, the observed trend of 0.05 ± 0.08 °C per decade is more than four times smaller than the average simulated trend of 0.21 ± 0.03 °C per decade (Fig. 1b). It is worth noting that the observed trend over this period — not significantly...

Fuel Injectors - Power Stroke Diesel

Achieve Optimal 6.0L Power Stroke® Diesel Injector Performance The 6.0L Power Stroke Diesel Engine utilizes a hydraulic injection system where high pressure engine oil is used to compress diesel fuel. The fuel injector is used to precisely control the delivery of the fuel into the combustion chamber. Following appropriate maintenance intervals and using the proper Motorcraft Original Equipment parts will ensure optimal injector durability. Normal and Special Operating Conditions: Customers use Power Stroke Diesel engines for a variety of applications, creating a need for two distinct maintenance interval schedules. The first schedule, called “Normal Operating Conditions”, applies to most personal use vehicles. The second schedule, called “Special Operating Conditions”, applies to many commercial use applications, including: Frequent or extended idling – Over 10 minutes per hour of normal driving – Frequent low speed operation – Sustained heavy traffic less then 25 MPH (40 KMH) • One hour of idle time, is equal to approximately 25 miles (40 km) of driving If vehicle is operated in sustained ambient temperatures below -10°F (-23°C) or above 100°F (38°C) Operating in severe dust or off-road conditions Towing a trailer over 1,000 miles (1,600 km) Sustained, high speed driving at Gross Vehicle Weight Rating (maximum loaded weight for vehicle operation) Use of any Biodiesel • B5 is the maximum allowable blend to be used in any Power Stroke® Diesel...

Panduan penulisan Penerbitan Buku Teks - PDPT

Panduan Penulisan Buku Panduan ini merupakan petunjuk penulisan buku pelajaran (ilmiah populer) yang digunakan untuk menentukan kelayakan naskah bagi penerbit. Panduan ini membahas pengertian buku pelajaran & diktat, tujuan penulisan buku pelajaran, isi buku pelajaran, sampul buku, bagian pembuka, bagian utama dan bagian penutup serta ketentuan jumlah halaman. Buku Pelajaran (Text book) & Diktat Buku pelajaran adalah bahan/materi pelajaran yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk buku dan digunakan sebagai bahan pelajaran (sumber informasi) sebuah mata kuliah bagi mahasiswa dan pengajar susuai dengan kebutuhan lapangan/industry dan tuntutan perkembangan teknologi dan atau kurikulum. Diktat adalah catatan tertulis suatu bidang studi yang disiapkan oleh guru/dosen untuk mempermudah pengayaan materi pelajaran atau bidang studi yang dibahas dalam proses pembelajaran (Ilvandri, 2011). Diktat yang baik merupakan draft buku ajar yang belum diterbitkan. Tujuan penulisan buku pelajaran a. Menyediakan buku susuai dengan kebutuhan mahasiswa, institusi dan lapangan/ industry serta serta tuntutan perkembangan teknologi atau kurikulum. b. Mendorong penulis/dosen untuk berkreasi dan kreatif membagikan ilmunya kepada masyarakat. c. Mendorong penulis untuk meng-update ilmunya sesuai dengan kriteria tuntutan buku layak terbit mencakup subdstansi, bahasa dan potensi pasar. d. Mendukung penulis untuk menerbitkan buku bila belum terbit. Isi Buku Pelajaran Isi buku pelajaran berupa teori, konsep, formula atau aturan terkini dilengkapi dengan contoh-contoh masalah atau studi kasus serta solusinya. Isi buku harus orsinil dengan merujuk dari berbagai sumber. Informasi tepat, dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kepada pembaca dan semua pihak terkait. Isi tersusun dengan baik atau dengan alur informasi yang mudah dipahami. Buku pelajaran dan diktat yang baik memenuhi tiga aspek pendidikan yaitu ilmu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills) dan sikap atau perilaku (attitude). Aspek tersebut seperti yang dinyatakan oleh UNESCO (1994) yaitu...

Systemic treatment for prostate cancer - Annals of Oncology

Annals of Oncology 17 (Supplement 10): x211–x213, 2006 doi:10.1093/annonc/mdl262 Systemic treatment for prostate cancer A. Horwich Institute of Cancer Research & Royal Marsden NHS Foundation Trust, Sutton, Surrey, UK treatment of metastatic prostate cancer ª 2006 European Society for Medical Oncology side-effects of androgen ablation Common side-effects of androgen ablation include loss of libido and hot flashes, but a range of others have been reported such as fatigue, weight gain, depression, memory loss and loss of bone mineral density. Osteopenia is a particular problem of long-term therapy, but may be prevented by bisphosphonates [7]. intermittent hormone therapy This is based on the idea that allowing reversal of the castrate state may prolong the period to development of androgenindependence and improve quality of life [8]. Results from phase III trials are needed to evaluate the place of this approach. hormone-refractory prostate cancer There are a number of systemic management approaches for the patient with prostate cancer progressing while on hormone ablation therapy. These include secondary hormone manipulation, cytotoxic chemotherapy, systemic isotope therapies and bisphosphonate therapy. Since the predominant pattern of metastatic prostate cancer includes bone and pelvic lymph node metastases the most prevalent clinical problems are bone pain, urinary obstruction, spinal cord compression, lymph edema of the lower limbs, anemia and cachexia. Management of patients who have failed hormone ablation therapy is more difficult than treating patients who are ¨ hormone-naıve since second-line treatments tend to have only transient benefit. Early referral for palliative and supportive care should be considered, including radiotherapy for bone pain, spinal cord compression, lymph edema or hematuria. The sequence of further therapeutic attempts is influenced by factors such as the disease-free interval induced by primary hormone therapy, the grade and growth rate of the cancer and the specific symptoms, general health and performance status of the patient. second-line hormones The first approach to patients who become refractory to hormone ablation is usually with an additional hormone...

Diesel Fuel Injector Cleaner Bulletin - Cummins Filtration

In today's high-performance diesel engines, fuel and other contaminants can combine to form harmful deposits especially when exposed to the high temperatures and pressures associated with advanced fuel injection system equipment. Traditional fuel additives may not be effective in removing or preventing such deposits, which may in turn affect engine and fuel system performance. Including: ■■ ■■ ■■ ■■ Increased white or black smoke Power loss Reduced injector life Reduced fuel economy Superior Performance Fleetguard Diesel Fuel Injector Cleaner is an ultra concentrated detergent additive that uses a technologically-advanced formula to remove traditional and soap-based deposits, which helps restore fuel injector performance. Designed for year round use, Diesel Fuel Injector Cleaner’s proprietary mixture of advanced additives is specifically formulated to clean fuel injectors. When used continuously, it also prevents new deposit formations thereby enhancing engine performance and maximizing injector life. Benefits to Your Bottom Line Diesel Fuel Injector Cleaner provides a wide range of comparative benefits that help reduce maintenance costs and increase vehicle uptime, including: ■■ ■■ ■■ ■■ ■■ ■■ Restores injector performance Restores power Prevents new deposits from forming Effective on both traditional and ULSD-based soapy deposits Optimizes Fuel Economy Reduces white and black smoke BULLETIN Diesel Fuel Injector Cleaner Product Usage Recommendations Cummins Filtration strongly recommends that an initial treat rate of 1:1000 (see table below) be used for the first 48 hours or 2400 miles (whichever occurs first) under normal operating conditions to ensure injector performance is fully restored. To achieve superior cleaning, the initial 48 hours should not include idle or down time. Diesel Fuel Injector Cleaner is a powerful cleaning agent which removes existing fuel system deposits, asphaltenes and other residue during initial use. It is therefore, recommended that the initial 48 hour clean up is performed prior to a scheduled fuel filter service interval to avoid degradation of engine performance due to the possibility of filter plugging. Following clean-up, a treat rate of 1:5000 should be used on a continuous basis to prevent deposit formation. Diesel Fuel Injector Cleaner is fully compatible with all ULSD fuel, #1 and #2 diesel fuels, combination fuels and with after treatment devices including EGR, DPF and SCR Systems. Product Usage

MacBook Pro (Late 2013) VPAT.pages - Apple

VPAT™ for Apple MacBook Pro (Late 2013) The following Voluntary Product Accessibility information refers to the Apple MacBook Pro (Late 2013). For more information on the accessibility features of this product and to learn more about this product’s features, visit www.apple.com/macbook-pro and www.apple.com/accessibility VPAT™ Voluntary Product Accessibility Template Summary Table Criteria Supporting Features Section 1194.21 Software Applications and Operating Systems Please refer to the OS X VPAT at www.apple.com/accessibility. Section 1194.22 Web-based Internet Information and Applications Not Applicable Section 1194.23 Telecommunications Products Please refer to the attached VPAT Section 1194.24 Video and Multi-media Products Not Applicable Section 1194.25 Self-Contained, Closed Products Not Applicable Section 1194.26 Desktop and Portable Computers Please refer to the attached VPAT Section 1194.31 Functional Performance Criteria Please refer to the attached VPAT and to the OS X VPAT at www.apple.com/accessibility. Section 1194.41 Information, Documentation and Support Remarks and Explanations Please refer to the attached VPAT MacBook Pro comes with the OS X operating system. Accessibility information for OS X is available at www.apple.com/accessibility/. Section 1194.23(k) and its subparts apply to the MacBook Pro. MacBook Pro is not a self-contained, closed product. ! VPAT™ for Apple MacBook Pro (Late 2013) Page 1 of 6 Section 1194.23 Telecommunications Products – Detail Criteria Supporting Features (a) Telecommunications products or systems which provide a function allowing voice communication and which do not themselves provide a TTY functionality shall provide a standard non- acoustic connection point for TTYs. Microphones shall be capable of being turned on and off to allow the user to intermix speech with TTY use. Not applicable (b) Telecommunications products which include voice communication functionality shall support all commonly used cross-manufacturer nonproprietary standard TTY signal protocols. Not applicable (c) Voice mail, auto-attendant, and interactive voice response telecommunications systems shall be usable by TTY users with their TTYs. Not applicable (d) Voice mail, messaging, auto-attendant, and interactive voice response telecommunications systems that require a response from a user within a time interval, shall give an alert when the time interval is about to run out, and shall provide sufficient time for the user to indicate more time is required. ...

Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2011

Soal-Soal dan Pembahasan SNMPTN Matematika IPA Tahun Pelajaran 2010/2011 Tanggal Ujian: 01 Juni 2011 1. Diketahui vektor u = (a, -2, -1) dan v = (a, a, -1). Jika vektor u tegak lurus pada v , maka nilai a adalah ... A. -1 B. 0 C. 1 D. 2 E. 3 Jawab: Vektor: vektor u tegak lurus pada v maka u . v = 0 u = −2 , v = −1 −2 . −1 −1 (a – 1) (a-1) = 0 maka a = 1 −1 = a2 – 2a + 1 = 0 (a - 1)2 = 0 Jawabannya adalah C 2. Pernyataan berikut yang benar adalah ... A. Jika sin x = sin y maka x = y B. Untuk setiap vektor u , v dan w berlaku u . ( v . w ) = ( u . v ). w C. Jika b  f ( x) dx = 0, maka a D. Ada fungsi f sehingga E. 1 – cos 2x = 2 cos2 x f ( x )= 0 Lim f(x) ≠ f(c) untuk suatu c xc www.belajar-matematika.com - 1 Jawab: Trigonometri, vektor, integral, limit A. Ambil nilai dimana sin x = sin y  sin α = sin (1800 – α ) ambil nilai α = 600  sin 600 = sin 1200 ; tetapi 600 ≠ 1200 Pernyataan SALAH B. Operasi u . ( v . w ) tak terdefinisi karena v . w = skalar, sedangkan u = vektor vektor . skalar = tak terdefinisi Pernyataan SALAH C. Ambil contoh cari cepat hasil dimana b  f ( x) dx = 0 ; a 1 Didapat b = 1 dan a = -1 maka f(x)= x   x dx = 0  1 terbukti : f(x) = x bukan f(x) = 0 x2 | Pernyataan SALAH D. Ambil contoh f(x) = Lim xc f(x) = Lim x 1 ( ( = ( ( ) ( )( ) = ) ( ) Lim f(x) ≠ f(c)  2 ≠ 1 xc ) ( )( ) = ) ( ) =2 Pernyataan BENAR E. 1 – cos 2x = 1 – ( 2cos2 x – 1) = 1 + 1 - 2cos2 x = 2 - 2cos2 x = 2 ( 1 – cos2 x) Pernyataan SALAH Jawabannya adalah D www.belajar-matematika.com - 2 = (1 – 1) = 0 3. Luas daerah di bawah y = -x2 +8x dan di atas y = 6x - 24 dan terletak di kuadran I adalah.... a. ∫ (− b. ∫ (− c. ∫ (− +8 ) +8 ) +8 ) d. ∫ (6 − 24) e. ∫ (6 − 24) Jawab: Integral: +∫ ( + ∫ (− + ∫ (− + ∫ (− + ∫ (− − 2 − 24) + 2 + 24) + 2 + 24) +8 ) +8 ) kuadran I titik potong kedua persamaan : y1 = y2 -x2 +8x = 6x-24 -x2 +8x - 6x+24 = 0 -x2 +2x + 24 = 0 x2 -2x - 24 = 0 (x - 6) (x+4)0 x = 6 atau x = -4  karena di kuadran I maka yang berlaku adalah x = 6  y = 6.6 – 24= 12 berada di titik (6,12) www.belajar-matematika.com - 3 L = ∫ (− = ∫ (− +8 ) +8 ) + ∫ ((− + ∫ (− Jawabannya adalah B + 8 ) − (6 − 24)) + 2 + 24) 4. sin 350 cos 400 - cos 35 sin 400 = A. cos 50 B. sin 50 C. cos 950 D. cos 750 E. sin 750 Jawab: Trigonometri: Pakai rumus: sin (A - B) = sin A cos B - cos A Sin B A= 350 ; B = 400 = sin (350 - 400) = sin -50 Cos (90 0 -  ) = sin   rumus Cos (90 0 - (-50) ) = sin -50   = -50 Cos 950 = sin -50 Jawabannya adalah C 5. Diketahui g(x) = ax2 – bx + a – b habis dibagi x – 1. Jika f(x) adalah suku banyak yang bersisa a ketika dibagi x – 1 dan bersisa 3ax + b2 + 1 ketika dibagi g(x), maka nilai a adalah...... A. -1 B. -2 C. 1 D. 2 Jawab: Suku Banyak: g(x) = ax2 – bx + a – b habis dibagi x – 1  g(1) = 0 g(1) = a . 1 – b .1 + a – b = 0 =a–b+a–b=0 2a – 2b = 0 2a = 2b  a = b karena a = b maka: g(x) = ax2 – ax + a – a = ax2 – ax www.belajar-matematika.com - 4 E. 3 f(x) dibagi dengan f(x-1) sisa a  f(1) = a f(x) dibagi dengan g(x) sisa 3ax + b2 + 1 f(x) dibagi dengan ax2 – ax sisa 3ax + b2 + 1 f(x) dibagi dengan ax(x – 1) sisa 3ax + b2 + 1 teorema suku banyak: Jika suatu banyak f(x) dibagi oleh (x- k) akan diperoleh hasil bagi H(x) dan sisa pembagian S  f(x) = (x- k) H(x) + S f(x) dibagi dengan ax(x – 1) sisa 3ax + b2 + 1 f(x) = ax (x - 1) H(x) + (3ax + b2 + 1) substitusikan nilai nol dari pembagi yaitu x = 0 dan x = 1  dari ax (x - 1) ambil x = 1  untuk x = 1 f(1) = a . 1 (1 – 1) H(0) + 3a.1 + b2 + 1 a = 0 + 3a + b2 + 1  diketahu a = b, masukkan nilai a = b a = 3a + a2 + 1 a2 + 2a + 1 = 0 (a+1)(a+1) = (a+1)2 = 0 a = -1 Jawabannya adalah A 6. Rotasi sebesar 450 terhadap titik asal diikuti dengan pencerminan terhadap y = -x memetakan titik (3,4) ke .... A. √ B. − Jawab: ,√ √ ,√ C. D. √ √ ,−√ ,−√ E. − Transformasi Geometri:  cos  Rotasi sebesar 450 terhadap titik asal =   sin    sin    cos     0  1 pencerminan terhadap y = -x    1 0     www.belajar-matematika.com - 5 √ ,√

Laporan lengkap
by Hermawan 0 Comments favorite 76 Viewed Download 0 Times

Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar refleksi fenomena alam yang secara geografis sangat khas untuk wilayah tanah air kita. Indonesia merupakan Negara kepulauan tempat dimana tiga lempeng besar dunia bertemu, yaitu: lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Interaksi antar lempeng-lempeng tersebut lebih lanjut menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang memiliki aktivitas kegunungapian dan kegempaan yang cukup tinggi. Lebih dari itu, proses dinamika lempeng yang cukup intensif juga telah membentuk relief permukaan bumi yang khas dan cukup bervariasi, dari wilayah pegunungan dengan lereng-lerengnya yang curam dan seakan menyiratkan potensi longsor yang tinggi hingga wilayah yang landai sepanjang pantai dengan potensi ancaman banjir, penurunan tanah dan tsunaminya (Sadisun, 2005-2006). Berbagai potensi bencana alam yang mungkin timbul sudah sebaiknya harus kita kenal agar karakter bahaya alam tersebut dapat kita minimalkan dampaknya. Selain itu, potensi bencana alam ini telah diperparah oleh beberapa permasalahan lain yang muncul di tanah air kita yang memicu peningkatan kerentanannya. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi merupakan salah satu contoh nyata, sehingga akan banyak membutuhkan kawasan-kawasan hunian baru yang pada akhirnya kawasan hunian tersebut akan terus berkembang dan menyebar hingga mencapai wilayah-wilayah marginal yang tidak selayaknya dihuni. Tidak tertib dan tepatnya perencanaan tata guna lahan, sebagai inti dari permasalahan ini merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya peningkatan kerentanan. Peningkatan kerentanan ini akan lebih diperparah bila masyarakat sama sekali tidak menyadari dan tanggap terhadap adanya potensi bencana alam di daerahnya. Pengalaman memperlihatkan bahwa kejadian-kejadian bencana alam selama ini telah banyak menimbulkan kerugian dan penderitaan yang cukup berat sebagai akibat dari perpaduan bahaya alam dan kompleksitas permasalahan lainnya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang komprehensif untuk mengurangi resiko bencana alam, antara lain yaitu dengan melakukan kegiatan migitasi. Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen bahaya (hazard) yang berupa fenomena alam/buatan di satu pihak, dengan kerentanan (vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai tingkat kapasitas/kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat bahaya yang mungkin terjadi padanya. Misalnya, letusan G. Merapi dan bahaya lainnya gempa bumi, banjir, gerakan tanah, dan lainnya tidak akan sertamerta menjadi bencana apabila komunitas memiliki kapasitas mengelola bahaya. Bencana cenderung terjadi pada komunitas yang rentan, dan akan membuat komunitas semakin rentan. Kerentanan komunitas diawali oleh kondisi lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi yang tidak aman (unsave conditions) yang melekat padanya. Kondisi tidak aman tersebut terjadi oleh tekanan dinamis internal maupun eksternal (dynamic pressures), misalnya di komunitas institusi lokal tidak berkembang dan ketrampilan tepat guna tidak dimiliki. Tekanan dinamis terjadi karena terdapat akar permasalahan (root causes) yang menyertainya. Akar permasalahan internal umumnya karena komunitas tidak mempunyai akses sumberdaya, struktur dan kekuasaan, sedang secara eksternal karena sistem politik dan ekonomi yang tidak tepat. Oleh karenanya penanganan bencana perlu dilakukan secara menyeluruh dengan meningkatkan kapasitas dan menangani akar permasalahan untuk mereduksi resiko secara total. Siklus penanggulangan bencana yang perlu dilakukan secara utuh. Upaya pencegahan (prevention) terhadap munculnya dampak adalah perlakuan utama. Tsunami tidak dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan pada bahaya yang manusia terlibat langsung maupun tidak langsung. Pada tsunami misalnya. Pencegahan dapat dilakukan rakyat dengan membuat bendung penahan ombak, bangunan panggung tahan ombak, penataan ruang dan sebagainya. Agar tidak terjadi jebolnya tanggul, maka perlu disusun save procedure dan kontrol terhadap kepatuhan perlakuan. Walaupun pencegahan sudah dilakukan, sementara peluang adanya kejadian masih ada, maka perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi...

D-Link DGL-4500 Manual
by monarcy 0 Comments favorite 21 Viewed Download 0 Times

Preface.......................................................................... ii Manual Revisions..................................................... ii Trademarks............................................................... ii Product Overview......................................................... 1 Package Contents.................................................... 1 System Requirements.............................................. 2 Introduction............................................................... 3 Features................................................................... Hardware Overview.................................................. 5 Connections........................................................ 5 LEDs................................................................... 6 OLED Screen. .................................................... 7 Installation.................................................................... 8 Before you Begin...................................................... 8 Wireless Installation Considerations. ....................... 9 Network Diagram.................................................... 10 Manual Setup. .................................................. 11 Connect to Cable/DSL/Satellite Modem. ...... 11 Connect to Another Router........................... 12 Getting Started....................................................... 14 Quick Router Setup Wizard.............................. 14 Configuration.............................................................. 15 Web-based Configuration Utility............................. 15 Setup Wizard.................................................... 16 Manual Configuration. ...................................... 20 Dynamic (Cable)........................................... 20 PPPoE (DSL)................................................ 22 PPTP............................................................. 23 L2TP. ............................................................ 25 Static (assigned by ISP)................................ 27 Wireless Settings.............................................. 28 SSID (Wireless Network Name).................... 28 Wireless Band............................................... 28 Change Channel........................................... 29 Transmission Rate. ....................................... 29 Network Settings. ............................................. 30 DHCP Server Settings.................................. 31 DHCP Reservation........................................ 32 Virtual Server.................................................... 33 Application Rules.............................................. 35 Gaming............................................................. 36 GameFuel......................................................... 37 Classification................................................. 37 Change Uplink Speed................................... 37 Routing............................................................. 39 Access Control. ................................................ 40 Access Control Wizard.................................. 40 Website Filters.................................................. 43 MAC Address Filters......................................... 44 Firewall Settings............................................... 45 Enable SPI.................................................... 45 DMZ.............................................................. 45 Inbound Filters.................................................. 46 Advanced Wireless Settings............................. 47 Transmit Power. ............................................ 47 DTIM Interval................................................ 47 802.11d......................................................... 47 WMM............................................................. 47 Enable .......................................................... 47 WISH Settings.................................................. 48 Wi-Fi Protected Setup (WPS)........................... 50 Advanced Network Settings. ............................ 52

« previous  123456789